Gatot Soebroto: Perintahkan Eksekusi Amir Sjarifuddin hingga Pasang Badan untuk Soeharto

Fahmi Firdaus , Okezone · Kamis 11 Juni 2020 08:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 11 337 2228018 gatot-soebroto-perintahkan-eksekusi-amir-sjarifuddin-hingga-pasang-badan-untuk-soeharto-LyFcIKpWhd.jpg foto: ist

JAKARTA – Apa yang ada dalam pikiran Anda saat melintas di Jalan Gatot Subroto? Pastinya kemacetan dan kebisingan yang ada dalam benak saat melewati ruas jalan protokol Ibu Kota tersebut.

Nama jalan ini diambil dari nama seorang tokoh perjuangan militer dalam merebut kemerdekaan yaitu Jenderal Gatot Soebroto. Selain Jakarta, nama Gatot Soebroto juga diabadikan sebagai nama jalan di Makassar.

Sosok Jenderal besar Gatot Soebroto juga tak lepas dari beberapa hal kontroversial. Salah satunya saat mengeksekusi mantan Perdana Menteri Amir Sjarifuddin, Okezone kembali mengulas perjalanan Gatot Soebroto saat masa pergolakan revolusi di Indonesia.

Lahir di Banyumas, Jawa Tengah, sebagai putra pertama keluarga Sajid Joedojoewono pada 10 Oktober 1907. Gatot tutup usia pada 11 Juni 58 tahun silam tepatnya pada 1962, secara mendadak karena serangan jantung.

Gatot Soebroto pasca-Madiun Affair (Pemberontakan PKI Madiun 1948), disebut-sebut orang yang paling bertanggung jawab dalam mencabut nyawa Amir Sjarifuddin.

Dikutip dari buku ‘Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia’, kala itu Gatot Soebroto berpangkat kolonel dan menjabat sebagai Gubernur Militer. Dia memerintahkan pada anak buahnya untuk mengeksekusi Amir Sjarifuddin pada 18 Desember 1948 tanpa diadili, tepat saat Belanda melancarkan Agresi Militer II ke Yogyakarta.

Amir ditangkap pada 29 November 1948 dengan keadaan lusuh. Dia dibawa dengan tahanan lainnya ke Solo untuk dipertemukan dengan Gatot Soebroto. 5 Desember di tahun yang sama, mereka dibawa ke Yogyakarta dan ditahan di Benteng Vredeburg.

Ketika tahu Amir dibawa ke Yogya, Soekarno sempat menyatakan permintaan agar Amir tidak dihukum mati. Sementara dalam buku ‘Madiun 1948: PKI Bergerak’, Wakil PM Mohammad Hatta minta Amir dan kawan-kawannya diajukan ke muka pengadilan.

“Saya sudah bilang untuk menahan mereka semua dan membawa mereka ke pengadilan,” seru Hatta kala itu seperti dikutip dalam buku ‘Indonesia Free: A Political Biography of Mohammad Hatta’.

“Gatot Soebroto mengatakan, dari pada mengambil risiko mereka menyeberang ke pihak Belanda, lebih baik mereka dihabisi,” tambah pengakuan Hatta setelah bertahun-tahun kemudian ketika mengenang soal eksekusi Amir Sjarifuddin di buku yang sama.

Pasang badan untuk Soeharto

Jenderal Gatot dikenal sebagai tentara yang disiplin dan sangat keras. Namun sikapnya itu tak membuat ia dijauhi anak buah dan koleganya di tentara. Dia sangat perhatian dan sayang terhadap anak buah. Bahkan ia rela untuk membela anak buahnya serta berani mengambil risiko.

Hal ini terlihat saat ia pasang badan untuk Soeharto. Kala itu, Soeharto menjabat sebagai Pangdam IV Diponegoro terindikasi melakukan penyelundupan ilegal. Jenderal AH Nasution dan Ahmad Yani marah sekali dan akan memberikan hukuman keras kepada Suharto.

Mengetahui itu dengan cepat Gatot Soebroto menemui Presiden Sukarno untuk memberikan pengampunan kepada Suharto dengan jaminan dirinya mampu merubah perangai Suharto karena menurutnya Suharto masih mungkin berubah.

Gatot Soebroto dikenal sebagai tentara yang solider terhadap rakyat kecil meski tengah bekerja sebagai tentara kependudukan Belanda dan Jepang. Ia dianggap contoh seorang pemimpin yang layak diapresiasi berkat jasa-jasanya.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini