RUU Pemilu, Menyempitnya Ruang-Ruang Demokrasi

Tim Okezone, Okezone · Rabu 10 Juni 2020 12:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 10 337 2227503 ruu-pemilu-menyempitnya-ruang-ruang-demokrasi-z9jdxMgZaw.jpg ilustrasi: okezone

GENAP 22 tahun usia Gerakan Reformasi di Indonesia. Masih segar dalam ingatan, sebuah tindakan kolektif rakyat yang di pelopori Pemuda dan Mahasiswa menumbangkan rezim Orde Baru. Peristiwa bersejarah tersebut sesungguhnya mengirimkan sebuah pesan akbar: Demokrasi.

Sebuah pesan yang diceritakan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Mewujud ke dalam praktik berbangsa dan bernegara. Menjadi asas bagi tata kelola pemerintahan yang baik. Suluh penerang bagi politik-rakyat dan sekaligus obat terbaik bagi patologi-birokrasi.

Namun era keemasan reformasi itu perlahan mulai redup. Indonesia sedang berjalan mundur, kembali kepada politik masa lalu, dimana saluran kebebasan berpendapat dikebiri melalui RUU Pemilu yang saat ini sedang dipersiapkan secara sepihak oleh DPR RI, di saat rakyat dan tenaga medis sedang berdarah-darah mengahadapi situasi pandemi.

Indonesia berada dalam situasi ‘menyempitnya ruang-ruang demokrasi’. Situasi yang berlawanan dengan semangat Gerakan Reformasi, 22 tahun yang silam. Menyempitnya ruang-ruang demokrasi tersebut ditandai dengan beberapa hal, sebagai berikut:

1. Rezim Parliamentary Threshold yang keblinger dan melupakan sejarah

Indonesia pernah hidup dalam kondisi kebebasan berpendapat yang memprihatinkan. Saluran politik dibatasi hanya kepada 3 (tiga) partai politik saja. Kebuntuan politik tersebut menjadi salah satu faktor utama meletusnya gerakan perubahan sosial dan tumbangnya pemerintahan Orde Baru yang sudah memimpin negeri ini selama 32 tahun;

2. Membunuh politik generasi muda

Politik kebaruan sudah melekat pada diri kaum muda. Mereka selalu tampil dengan gagasan-gagasan baru dan tokoh-tokoh baru. Kaum muda selalu hadir dengan keberanian menyampaikan kritik-kritiknya yang tajam.

RUU Pemilu sesungguhnya sedang berupaya secara sadar untuk membungkam saluran politik kaum muda melalui partai-partai politik baru

3. Puluhan juta suara pemilih terabaikan

Pada pemilu sebelumnya, kita mendapatkan data bahwa jutaan suara pemilih hangus dan tidak dapat dikonversi menjadi kursi di parlemen.

Abdullah Mansuri

Sekjen DPP Partai Garuda

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini