Marak Penyebaran Hoax, DPR: Mau Sampai Kapan Begitu?

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Rabu 10 Juni 2020 11:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 10 337 2227440 marak-penyebaran-hoax-dpr-mau-sampai-kapan-begitu-2SKmd7IeF7.jpg ilustrasi: shutterstock

JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI Willy Aditya meminta pengguna sosial untuk tetap menjadikan media sosial sebagai medium komunikasi manusiawi. Pernyataan Willy ini menganggapi Hari Media Sosial Nasional yang jatuh setiap 10 Juni.

“Saat ini kita dihadapkan pada banyaknya platform media sosial untuk saling berhubungan dan berkomunikasi antar warga. Tapi karena kemunculannya bukan berasal dari geliat perkembangan komunikasi alamiah antarwarga, maka banyak dampak yang tidak kita duga sebelumnya. Komunikasi manusiawi yang sejak dulu dihadirkan lewat tatap muka langsung, harus terus menjadi titik pijak menggunakan media sosial, ” kata Willy saat dihubungi Okezone di Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Willy melanjutkan, hubungan tatap muka antar warga yang dahulu terbatas teknologi nyatanya justru memelihara keguyuban. Komunikasi tatap muka yang alamiah ada sejak lama, menurutnya banyak memberi manfaat sosial yang masih belum tergantikan dengan platform media sosial apapun.

“Kurangnya komunikasi manusiawi memudahkan terjadinya salah paham, desas-desus, kabar bohong dan lainnya. Ini yang sedang kita hadapi sekarang dengan makin banyaknya kasus-kasus hukum di ranah media sosial. Seseorang dengan mudah menciptakan informasi palsu, fitnah dan lainnya lalu memuatnya di media sosial dan akhirnya tersebar luas dan berakhir dengan tindakan hukum. Mau sampai kapan begitu,” tegas Willy.

Meski begitu Politikus Partai Nasdem ini mengakui banyak juga manfaat yang bisa di peroleh warga dari penggunaan media sosial.

Seperti banyak peristiwa, pengalaman, hingga pengetahuan yang mungkin belum pernah dialami dan diketahui warga dapat di akses dengan bantuan perkembangan platform media sosial.

Bahkan saat ini media sosial pun bukan sekedar bersifat sosial sebagaimana adanya, media sosial juga ternyata dapat memberi nilai tambah ekonomis bagi warga.

“Kalau kita ikuti perkembangannya, media sosial yang awalnya saling membentuk komunitas sosial kini juga dipakai sebagai komunitas bisnis. Hebatnya lagi media sosial menyediakan segmented market buat mereka yang mengembangkan bisnis. Dulu dagang di Facebook, Twitter, dan lainnya itu tabu, sekarang bahkan telah dibuat legal,” ungkap Willy.

Willy pun mengajak agar masyarakat untuk lebih banyak mempelajari dan mempraktekan bagaimana nilai ekonomis media sosial membangun komunikasi dengan pendekatan-pendekatan humanis, komunikasi manusiawi.

Karena, lanjut Willy, hampir tidak ada pengguna media sosial untuk bisnis memakai cara-cara komunikasi yang tidak manusiawi. Bahkan pengguna media sosial dari kelompok ini berupaya untuk tahu bagaimana kebiasaan, pilihan-pilihan, dan kebijaksanaan warga media sosial.

“Pengguna media sosial untuk berbisnis itu lebih menampakkan sisi komunikasi manusiawi. Mereka lebih dialogis, persuasif, informatif, dan tidak jarang menghibur juga. Ini yang terlihat minim ditunjukan oleh pengguna media sosial yang hanya menggunakannya sebagai media sosial komunikasi tanpa tatap muka. Mereka yang disebut terakhir itu cenderung garang, monolog, kaku dan paling ekstrim yah jadi penyebar suasana kemuraman sosial seperti fitnah, hoax, bully dan lainnya,” jelas Willy.

Lebih lanjut ia mengingatkan pengguna media sosial untuk memajukan cara-cara komunikasi manusiawi dalam penggunaan media sosial. Menurutnya hal ini bisa dilakukan apabila warga media sosial mulai mengedepankan pertimbangan integritas, kehormatan, dan aktualisasi diri warga lainnya sesama pengguna media sosial.

“Kita punya sudah punya UU ITE, kedepan kita akan punya UU Pelindungan Data Pribadi dan lainnya yang bisa mempidana perilaku merendahkan kemanusiaan dalam bermedia sosial. Namun perkembangan hubungan antar manusia akan terus terjadi dan UU Itu akan kedaluwarsa,” katanya.

“Akan menjadi bijak jika kita sebagai pengguna media sosial menetapkan standar prilaku humanis dalam menggunakan media sosial apapun. Sehingga kasus-kasus hukum yang berkenaan dengan media sosial akan juga semakin minim,” tandas Willy.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini