Kerusuhan Rasial di Amerika, Said Aqil Tekankan Penting untuk Bahan Refleksi

Pernita Hestin Untari, Okezone · Sabtu 06 Juni 2020 08:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 06 337 2225395 kerusuhan-rasial-di-amerika-said-aqil-tekankan-penting-untuk-bahan-refleksi-eoIxpm6K9j.jpg Ketum PBNU, Said Aqil Siroj. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Ketua Umum Nahdlatul Ulama (NU), Said Aqil Siroj menyatakan, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika ke-45 telah menguak borok demokrasi Amerika, yang selama ini tampil bak ‘polisi’ demokrasi dunia. Menurutnya, kampanye ‘hitam’ Trump di musim kampanye Pilpres AS yang rasis, yang menunjukkan sentimen negatif terhadap imigran kulit warna dan kaum Muslim, telah menabung bara api yang meledak dalam kerusuhan rasial sekarang.

Amerika tengah dirundung kerusuhan akibat terbunuhnya George Floyd oleh seorang polisi. Aksi tersebut mengundang reaksi dari seluruh dunia yang mengkritik rasisme di Negeri Paman Sam.

“Demokrasi Amerika tengah sekarat karena menghasilkan pemimpin konservatif yang menyeret demokrasi ke titik anti-klimaks, dengan retorika-retorika politik iliberal yang selama ini dimusuhinya,” kata Said Aqil dalam keterangan tertulis yang diterima Okezone, Sabtu (6/6/2020).

Menurutnya, perubahan haluan yang drastis dari Presiden Barack Obama ke Donald Trump menunjukkan fondasi demokrasi Amerika tidak sekokoh seperti yang didengung-dengungkan.

“Diskriminasi rasial dan kesenjangan ekonomi telah menjadi cacat bawaan seperti telah disinggung oleh Gunnar Myrdal sejak 1944 dalam bukunya ‘An American Dilemma;. Demokrasi Amerika akan terus dihantui oleh pertarungan abadi antara ide persamaan hak dan prasangka rasial. Keyakinan Myrdal bahwa pada akhirnya demokrasi akan menang atas rasisme tidak terbukti sampai sekarang. Diskriminasi atas warga Afro-Amerika telah memicu kerusuhan rasial yang terus berulang hingga 11 kali dalam setengah abad sejak 1965,” ujarnya.

Baca juga: Akibat Kerusuhan, Toko-Toko di Amerika Banyak yang Tutup

Selain itu, kata Said, keadilan, persamaan hak, pemerataan, dan perlakuan tanpa diskriminasi terhadap seluruh kelompok masyarakat merupakan nilai-nilai demokrasi yang gagal dicontohkan Amerika. Standar ganda yang sering digunakan Amerika dalam isu HAM, perdagangan bebas, dan terorisme menunjukkan wajah bopeng demokrasi yang tidak patut ditiru.

Ketum PBNU, Said Aqil Siroj.

“NU memandang bahwa demokrasi masih merupakan sistem terbaik yang sejalan dengan konsep syûrâ di dalam Islam. Namun, NU menolak penyeragaman demokrasi liberal ala Amerika sebagai satu-satunya sistem terbaik untuk mengatur negara dan pemerintahan,” ucap Said.

Dia menegaskan, Indonesia tidak perlu mengikuti Amerika dan negara manapun untuk membangun demokrasi yang selaras dengan jati diri dan karakter bangsa Indonesia. Demokrasi yang perlu dibangun, kata dia, tetap harus berlandaskan pada prinsip musyawarah-mufakat dalam politik dan gotong royong dalam ekonomi. Dia menyebtunya demokrasi yang sejalan dengan penguatan cita politik sebagai bangsa yang nasionalis-religius dan religius-nasionalis.

“Nahdlatul Ulama memandang bahwa kejadian kerusuhan rasial di Amerika saat ini perlu menjadi bahan refleksi serius agar peristiwa serupa tidak terulang di negara mana pun,” ucapnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini