Ketua KPU RI: Harun Masiku Pernah Datang ke Kantor Saya

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 04 Juni 2020 13:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 04 337 2224449 ketua-kpu-ri-harun-masiku-pernah-datang-ke-kantor-saya-han3kSREvm.jpg Ketua KPU RI Arief Budiman jadi saksi di persidangan kasus suap PAW anggota DPR RI (Foto : Okezone.com/Arie DS)

JAKARTA - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman mengaku pernah didatangi oleh mantan Caleg dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Harun Masiku. Harun Masiku mendatangi Arief di ruang kerjanya di kantor KPU Pusat, Jakarta, sebelum adanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Demikian diakui Arief saat bersaksi dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap pengurusan proses Pergantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPR Fraksi PDIP, di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat. Arief bersaksi untuk terdakwa Wahyu Setiawan.

"Saya tidak kenal Saeful Bahri dan Harun Masiku. Tapi dia (Harun Masiku -red) pernah kemudian datang ke kantor saya. Pastinya saya tidak ingat. Tetapi yang pasti saya ingat dia datang sambil bawa itu," kata Arief kepada Jaksa, Kamis (4/6/2020).

Harun Masiku (Foto: Istimewa)

Seingat Arief, Harun Masiku datang ke kantornya sebelum ada pelantikan anggota DPR pengganti Nazaruddin Kiemas yang telah meninggal dunia. Namun, Arief memastikan Harun datang setelah adanya keputusan dari MA soal proses PAW Anggota DPR.

"Yang pasti (datang) sebelum pelantikan. Penetapan suara seingat saya belum juga. Tapi yang saya pastikan setelah ada putusan MA. Karena waktu dia datang ke tempat saya dia berkonsuktasi tentang putusan MA. Setelah pemilu," ucapnya.

Harun Masiku disebut datang berdua ke kantor Arief Budiman. Arief mengaku tidak mengetahui dengan jelas siapa sosok yang datang bersama Harun Masiku. Hingga saat ini, Harun Masiku sendiri masih buron dan belum diketahui keberadaannya.

Harun Masiku merupakan mantan Caleg asal PDIP yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pemulusan proses Pergantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPR. Harun lolos dalam OTT KPK. Ia berhasil melarikan diri. Saat ini, ia telah ditetapkan sebagai buronan KPK. Harun juga telah dicegah untuk bepergian ke luar negeri.

Dalam perkara ini, Wahyu Setiawan didakwa menerima suap dari Saeful dan Harun melalui pihak perantara yakni, mantan anggota Bawaslu, Agustiani Tio Fridelina. Agustiani juga menjadi terdakwa dalam perkara ini.

Dalam surat dakwaan Jaksa, uang suap itu diberikan agar Wahyu menyetujui permohonan Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR Fraksi PDIP periode 2019-2024 dari Riezky Aprilia kepada Harun Masiku.

Baca Juga : Rumah Ibadah di Jakarta Dibuka Kembali Besok, Ini Syaratnya

Selain itu, Wahyu juga didakwa menerima gratifikasi Rp500 juta dari Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Gratifikasi melalui Sekretaris KPU Provinsi Papua Barat, Rosa Muhammad Thamrin Payapo itu terkait proses seleksi calon anggota KPUD Papua Barat periode 2020-2025.

Uang Rp500 juta itu diberikan ke Wahyu melalui transfer antar bank. Wahyu meminjam rekening istri dan sepupunya bernama Ika Indrayani untuk menerima gratifikasi tersebut.

Atas perbuatannya, Wahyu didakwa melanggar Pasal 12 huruf a dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini