Ketua KPU Bersaksi di Sidang Suap Wahyu Setiawan

Arie Dwi Satrio, Okezone · Kamis 04 Juni 2020 09:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 04 337 2224264 ketua-kpu-bersaksi-di-sidang-suap-wahyu-setiawan-o4aKsJOkj4.jpeg Ketua KPU RI Arief Budiman (Okezone)

JAKARTA - Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menggelar sidang lanjutan perkara suap terkait pengurusan proses Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dengan terdakwa mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Wahyu Setiawan. Agenda sidang hari ini pemeriksaan saksi.

Tim Jaksa Penuntut Umun pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap tiga saksi yakni, Ketua KPU RI Arief Budiman; komisioner KPU Hasyim Asy'ari; dan Ketua KPUD Sumatera Selatan Kelly Mariana. Saat ini, baru Arief dan Hasyim yang sudah hadir di Pengadilan Tipikor.

"Arief Budiman, Hasyim Asy'Ari dan Kelly Mariana. Arief dan Hasyim sudah datang," kata Jaksa Takdir Suhan saat dikonfirmasi Okezone, Kamis (4/6/2020).

 Baca juga: Wahyu Setiawan Didakwa Terima Suap Rp600 Juta dari Harun Masiku

Sebelumnya, Wahyu Setiawan didakwa menerima suap sebesar 57.350 dolar Singapura atau setara Rp600 juta. Suap itu berasal dari kader PDIP Saeful Bahri dan mantan calon anggota legislatif (caleg) PDIP, Harun Masiku.

 ilustrasi

Wahyu Setiawan menerima suap dari Saeful dan Harun melalui pihak perantara yakni, mantan anggota Bawaslu, Agustiani Tio Fridelina. Agustiani juga menjadi terdakwa dalam perkara ini.

Dalam surat dakwaan, uang suap itu diberikan agar Wahyu menyetujui permohonan Pergantian Antar Waktu (PAW) anggota DPR Fraksi PDIP periode 2019-2024 dari Riezky Aprilia kepada Harun Masiku.

Selain itu, Wahyu juga didakwa menerima gratifikasi Rp500 juta dari Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan. Gratifikasi melalui Sekretaris KPU Provinsi Papua Barat, Rosa Muhammad Thamrin Payapo itu terkait proses seleksi calon anggota KPUD Papua Barat periode 2020-2025.

Uang Rp500 juta itu diberikan ke Wahyu melalui transfer antar bank. Wahyu meminjam rekening istri dan sepupunya bernama Ika Indrayani untuk menerima gratifikasi tersebut.

Atas perbuatannya, Wahyu didakwa melanggar Pasal 12 huruf a dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Juncto Pasal 64 ayat 1 KUHP.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini