5 Terdakwa Kasus Jiwasraya Pakai Nama Samaran

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 03 Juni 2020 18:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 03 337 2224064 5-terdakwa-kasus-jiwasraya-pakai-nama-samaran-ZPD7TbRkfT.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Jaksa pada Kejaksaan Agung (Kejagung) membongkar adanya upaya untuk mengaburkan identitas dari lima terdakwa kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Mereka diduga mengaburkan identitasnya dengan memakai nama samaran dalam berkomunikasi.

Kelima terdakwa yang menggunakan nama samaran itu yakni, Direktur Utama (Dirut) PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Hendrisman Rahim; Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera, Heru Hidayat; Direktur PT Maxima Integra, Joko Hartono Tirto; mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya, Hary Prasetyo; dan bekas Kepala Divisi Investasi PT Asuransi Jiwasraya, Syahmirwan.

"Terdakwa Hendrisman Rahim, bersama Hary Prasetyo, Syahmirwan, Joko Hartono, dan Heru Hidayat menyepakati menggunakan nama samaran dalam setiap komunikasi via WhatsApp, chat ataupun online dalam membahas transaksi jual/beli saham yang akan dilakukan oleh PT.AJS dengan tujuan penggunaan nama samaran (panggilan) tersebut untuk mengaburkan identitas pada saat melakukan komunikasi via whatsApp, chat ataupun online," ujar Jaksa saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2020).

Berdasarkan surat dakwaan, Hendrisman Rahim disebut menggunakan nama samaran 'Chief'. Sementara Hary Prasetyo memakai nama samaran 'Rudy'. Kemudian, Syahmirwan menggunakan nama samaran 'Mahmud'. Sedangkan Heru Hidayat diberi nama samaran 'Pak Haji', dan Hartono Tirto mendapat nama samaran 'Panda'.

Tak hanya itu, terdapat satu pegawai Jiwasraya yang tidak berstatus terdakwa yakni, Agustin Widhiastuti juga mendapat nama samaran dengan julukan Rieke. Hanya Benny Tjokro, terdakwa yang tidak tercantum nama samarannya dalam surat dakwaan.

Dalam perkara ini, Jaksa pada Kejagung mendakwa Hendrisman, Hary Prasetyo, Syahwirman bersama dengan Heru, Henny dan Joko telah merugikan negara Rp 16,8 triliun.

Baca Juga : PSBB DKI Jakarta Diperpanjang hingga 18 Juni 2020?

Baca Juga : Cerita Pedagang Sayur Berusia 80 Tahun yang Batal Naik Haji

Kerugian itu muncul dari salah kelola dana investasi nasabah Jiwasraya. Jaksa menyebut tiga petinggi Jiwasraya memperoleh duit, saham, mobil dan paket wisata terkait perjanjian kerja sama dengan para pengusaha dan manajer investasi.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini