Share

Hembusan Topan Salah Satu Penyebab Gelombang Tinggi di Samudera Hindia

Angkasa Yudhistira, Okezone · Sabtu 30 Mei 2020 15:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 30 337 2222038 hembusan-topan-salah-satu-penyebab-gelombang-tinggi-di-samudera-hindia-Wc3utKPWUf.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

JAKARTA - Fenomena gelombang tinggi di perarian Samudera Hindia ramai diperbincangkan dan menjadi viral di media sosial dalam sepekan terakhir.

Diketahui, terjangan gelombang tinggi atau banjir rob di Pesisir Selatan Pulau Bali sudah terjadi beebrapa hari lalu. Hempasan air laut bahkan meluap hingga ke Jalan Raya Pantai Kuta. Air laut naik melalui masing-masing pintu masuk di sepanjang pantai tersebut.

Kepala Pusat Hidrologi dan Oceanografi TNI Angkatan Laut, Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro, mengatakan gelombang tinggi tersebut adalah fenomea alam biasa. Pemicunya adalah adanya siklon tropis di selatan Samudra Hindia, yaitu topan Ampha dan Topan Mangga, pada saat bersamaan spring tide di mana tunggang air naik tinggi sebagai fenomena pasang laut yang puncaknya pada 28 Mei 2020.

“Jadi saat pasang sedang tinggi karena purnama, dihembus oleh angin kencang topan di selatan Samudra Hindia dengan kecepatan 50 knot, yang bisa menyebabkan gelombang tinggi 5-7 meter,” ujar Harjo Susmoro dalam keterangan tertulisnya yang diterima Okezone, Sabtu (30/5/2020).

Laksamana Muda Harjo Susmoro (Foto : Istimewa)

Menurut data real time yang dimiliki oleh Pus Hidrosal, saat kejadian di pesisir Benoa Bali dan Pantai Lembar Lombok, pasang naik saat itu berketinggian 1,5 meter di Benoa dan Pantai Lembar setinggi 1,2 meter.

Siklon tropis Topan Amphan di Samudra Hindia Barat Laut Bengkulu, dengan pergerakan dari perairan selatan semenanjung Kerala India, bergerak ke arah timur laut dan luruh di daratan Bangladesh.

Siklon tropis dengan kecepatan hingga 50 knot itu masih mempertahankan kekuatannya saat mencapai pantai barat Sumatera hingga 25-30 knot. Pada 20 Mei 2020 gelombang akibat Siklon ini menimbulkan tinggi gelombang hingga 7 meter dan di pantai barat Sumatera mencapai 5 meter.

Pada periode yang sama, Topan Mangga yang terbentuk pada area sebelah tenggara dari awal kemunculan topan Amphan atau di Barat Daya Bengkulu, siklon tropis ini bergerak ke arah Timur-Tenggara dan meluruh di daratan Australia.

Kecepatan angin yang ditimbulkan mencapai 30-40 knot serta membangkitkan gelombang laut 5 hingga 6 meter di pesisir selatan Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.

Baca Juga : Soal Kasus Ruslan Buton, TNI AD: Dia Sudah Sipil

Harjo menjelaskan siklon tropis yang belakangan sering terjadi, karena pemanasan global atau global warming menyebabkan suhu muka air laut yang tidak merata. Jika ada tekanan rendah, akan menjadi titik energi angin berkumpul dari kawasan bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah yang menyebabkan topan, karena kekuatan energi tidak sama, menyebabkan topan itu bergerak.

Namun, ia menyatakan fenomena tersebut tidak perlu dikhawatirkan dengan berlebihan. Hanya saja, dalam situasi pasang tinggi, warga sekitar pantai hendaknya menjauhi pesisir. Seban, air pasang yang tinggi di pantai utara Jawa sering berujung pada banjir rob, seperti di pesisir Jabodetabek, pesisir Semarang, Jawa Tengah hingga ke Pantai Jepara.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini