Anak-Anak Setuju Kembali Sekolah saat Pandemi Covid-19, Orang Tua Menolak

Pernita Hestin Untari, Okezone · Jum'at 29 Mei 2020 23:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 29 337 2221798 anak-anak-setuju-kembali-sekolah-saat-pandemi-covid-19-orang-tua-menolak-bSE835YyZZ.jpg Ilustrasi sekolah dasar/Foto: Dokumentasi okezone

JAKARTA - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti membagikan angket berisi 10 pertanyaan terkait rencana sekolah di buka di masa pandemic Covid-19 di akun pribadi sosial media.

Penyusunan angket ini menyasar siswa, guru dan orangtua. Angket ini bertujuan untuk memberikan ruang partisipasi kepada siswa, orangtua dan guru secara langsung kepada kebijakan Negara yang terkait anak.

“Saya mengapresiasi semangat dan antusias masyarakat mengisi dan menshare angket tersebut. Bahkan ketika pengisian angket di tutup pada Kamis (28/5) pukul 7.30 WIB, ada ratusan WhatsApp dan inbox Facebook ke nomor pribadi dari masyarakat yang berminat mengisi angket tersebut,” ungkap Retno dalam keterangan resminya, Jumat (29/5/2020).

Retno menambahkan bahwa angket tersebut bukan penelitian, namun hanya sebagai ruang membuka partisipasi siswa, orangtua dan guru untuk berpendapat tentang kebijakan Negara terkait sekolah dibuka atau tidak saat tahun ajaran baru 13 Juli 2020 saat pandemi Covid-19.

"Karena sepanjang pengetahuan saya selama ini, jarang ada ruang bagi guru, siswa, dan orangtua untuk berpendapat atas kebijakan public terkait diri mereka sendiri dan anak," ungkap Retno.

Menurut Retno data yang diperoleh secara umum cukup unik, karena siswa mayoritas setuju masuk sekolah, namun sebagian besar orangtua justru tidak setuju sekolah dibuka 13 Juli 2020 ini.

“Sebagian besar anak setuju sekolah dibuka karena kemungkinan mereka sudah jenuh belajar dari rumah. Ini mengkonfirmasikan bahwa data survey PJJ KPAI beberapa waktu lalu yang menunjukkan siswa mengalami kejenuhan selama PJJ dan bahkan siswa berpendapat lebih senang belajar di sekolah,” imbuh Retno.

Sementara itu orangtua yang menolak sekolah dibuka kembali menunjukkan bahwa mereka khawatir akan keselamatan dan kesehatan anak-anaknya ketika sekolah dibuka di masa pandemic dengan kasus Covid-19 yang masih tinggi dan belum ada persiapan memadai untuk menerapkan protocol kesehatan yang ketat di sekolah.

“Namun detailnya dari data angket yang sudah diisi oleh ratusan ribu responden harus diolah dahulu, selanjutnya harus saya di analisis. Perlu beberapa hari bagi saya untuk melakukan olah data analisa data," paparnya.

Untuk diketahui, pilihan jawaban tertutup dalam angket merupakan hasil pemikiran dan diskusi Retno dengan para guru, orangtua dan tenaga kesehatan beberapa waktu sebelumnya. Pertanyaan tertutup dipilih agar memudahkan saat olahdata, jadi tidak sama sekali bermaksud menggiring jawaban, namun itu memang kemungkinan jawaban yang muncul dari responden, oleh karena itu responden boleh memilih lebih dari satu jawaban bahkan dibuka juga jawaban lainnya jika tidak ada jawaban yang diinginkan responden.

Animo masyarakat cukup tinggi untuk mengisi angket, dalam 32 jam saat ujicoba angket ditutup, ternyata diperoleh partisipasi siswa sebanyak 9.643 orang, partisipasi guru sebanyak 18.112 orang dan partisipasi orangtua mencapai 196.559 orang.

Meski animo masyarakat terutama para orangtua begitu tinggi ingin mengisi angket ujicoba tersebut, namun Retno memutuskan untuk tidak melakukan penyebaran angket lagi, karena jumlahnya sudah mencapai 196 ribu lebih.

”Jadi hasil angket ujicoba ini yang akan saya olah dan analisis nanti. Data ini sangat disayangkan kalau tidak di tindaklanjuti meskipun datanya hanya berasal dari ujicoba angket yang saya susun karena kegundahan saya pribadi atas tingginya kasus anak terinfeksi covid 19, sehingga sebagai seorang ibu yang memiliki anak yang masih sekolah dasar, saya khawatir keselamatan dan kesehatan anak saya ketika dia harus masuk sekolah Juli 2020,” ujar Retno.

(fmh)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini