Dokter A Umumkan Putus Hubungan dengan Orangtua Melalui Media Massa

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Jum'at 29 Mei 2020 00:09 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 29 337 2221227 dokter-a-umumkan-putus-hubungan-dengan-orangtua-melalui-media-massa-cz32zTT7DZ.jpg ilustrasi

JAKARTA - Seorang dokter berinisial A tega memutuskan hubungan dengan kedua orangtuanya melalui media massa. Adapun peristiwa ini terjadi usai dokter berinsial A terlibat pertengkaran dengan orangtuanya terkait biaya pesta pernikahan.

Cerita pemutusan hubungan antara anak dan orangtua itu mengutip dari putusan yang diterbitman Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta bernomor 168/PID.SUS/2020/PT/DKI.

Mulanya dokter A meminta kepada sang ayah untuk segera melunasi biaya sewa gedung di sebuah hotel bintang 5 di kawasan Senayan, Jakarta. Tapi sang ayah enggan melakukan hal tersebut karena meminta mertua dari dokter A untuk menemui terlebih dahulu.

Tidak terima dengan saran yang diberikan sang Ayah, dokter A malah ingin melemparkan 'bogeman' dan dilerai oleh sang Ibunda. Disitulah dokter A juga mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya dilontarkan dan pergi meninggalkan kedua orangtuanya.

Setelah melewati beragam drama, dokter A akhirnya melansungkan pernikahan. Namun pesta kebahagian tersebut tanpa mengundang kedua orangtuanya di pelaminan.

Tidak sampai disitu, dokter A pun secara tragis melalui media massa mengumumkan bahwa dirinya sudah putus hubungan dengan ayah dan ibunya.

Rasa depresi pun melanda ayah dan ibu dokter A, melihat tingkah laku dari anak yang dilahirkan mereka. Hingga langkah hukum diambil oleh ayah dan ibu untuk membawa kasus tersebut ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan.

Dalam proses pengadilan di meja hijau, PN Jakarta Selatan menyatakan tindakan dari dr A merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 45 ayat (1) jo. Pasal 5 huruf b UndangUndang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.  

PN Jaksel juga menjatuhkan hukuman percobaan berupa 3 bulan penjara yang tidak perlu dijalani apabila selama 6 bulan tidak melakukan perbuatan pidana.

Tak terima dengan putusan itu, dokter A melayangkan banding ke Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Majelis tinggi yang diketuai oleh Achmad Yusak dengan anggota Sirande Palayulan dan Haryono pun memutus bahwa dokter A melakukan tindakan Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.  

"Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa sesuai tuntutan Jaksa Penuntut Umum, atau setidak-tidaknya tidak kurang dari 2/3 dari tuntutan pidana Penuntut Umum," tulis putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

(fmi)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini