nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PBNU : Zona Merah Corona Sebaiknya Sholat Id Berjamaah di Rumah

Fadel Prayoga, Okezone · Sabtu 23 Mei 2020 06:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 05 23 337 2218344 pbnu-zona-merah-corona-sebaiknya-sholat-id-berjamaah-di-rumah-AO5tivgTsw.jpg ilustrasi

JAKARTA - Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU, Robikin Emhas meminta kepada seluruh masyarakat Indonesia yang berdomisili di zona merah virus corona atau Covid-19 agar melaksanakan Sholat Id 1441 Hijriah di rumahnya masing-masing. Sebab, bila tetap dilaksanakan, dikhawatirkan bakal menimbulkan klaster baru Covid-19.

“PBNU menganjurkan agar umat Islam melaksanakan ibadah di rumah atau sesuai protokol Covid-19 yang ditetapkan pemerintah, termasuk Sholat Idul Fitri,” kata Robikin kepada Okezone, (23/5/2020).

Tak hanya itu, lanjut dia, pihaknya pun juga mengimbau agar masyarakat tak menggelar halal bihalal usai lebaran secara tatap muka. Alangkah baiknya, kegiatan itu dilaksanakan secara daring, karena mengingat kini sinyal kartu seluler sudah menjangkau ke seluruh wilayah di Tanah Air.

“Dianjurkan juga agar takbiran juga dilakukan dari rumah masing-masing. Tidak takbir keliling. Silaturahmi juga cukup melaui daring. Bisa kirim pesan singkat, voice call atau video call. Tidak perlu menggelar halal bihalal sebagaimana lazim dilakukan sebelum-sebelumnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, pemerintah menetapkan 1 Syawal 1441 Hijriah/2020 Masehi, jatuh pada hari Minggu, 24 Mei 2020. Hal itu berdasarkan pantauan hilal di sejumlah lokasi.

"Tinggi hilal di seluruh Indonesia di bawah ufuk, yaitu berkisar dari minus 5,29 sampai dengan minus 3,96 derajat. Dengan posisi demikian, maka hilal tidak dimungkinkan untuk dilihat," kata Menag Fachrul saat sidang isbat di Kantor Kementerian Agama Jalan MH Thamrin, Jakarta, kemarin.

Hal tersebut, kata Menag Fachrul, terkonfirmasi oleh pernyataan para perukyah yang diturunkan Kemenag. Pada tahun ini, rukyah dilaksanakan Kemenag pada 80 titik di Indonesia.

"Kita mendengar laporan dari sejumlah perukyah hilal bekerja di bawah sumpah, terdiri dari provinsi Aceh hingga Papua. Di 80 titik tersebut, tidak ada satu pun perukyah dapat melihat hilal," sambungnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini