Kilas Balik Kejatuhan Soeharto Setelah 32 Tahun Orde Baru Berkuasa

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Kamis 21 Mei 2020 10:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 21 337 2217434 kilas-balik-kejatuhan-soeharto-setelah-32-tahun-orde-baru-berkuasa-YJy4QABxTB.jpg Presiden Soeharto 32 tahun memimpin Indonesia (Foto Wikipedia)

JAKARTA – Hari ini 22 tahun lalu, Soeharto mundur dari Presiden setelah 32 berkuasa. Jenderal besar itu rontok di tangan mahasiswa dan rakyat yang turun ke jalan berunjuk rasa besar-besaran. Dia kemudian digantikan oleh wakilnya BJ Habibie. Orde Baru tumbang, reformasi dimulai.

Soeharto mundur pada Kamis 21 Mei 1998, hanya berselang 70 hari setelah dikukuhkan lagi sebagai Presiden untuk periode ketujuh. Soeharto mundur setelah demo berdarah yang merenggut banyak nyawa.

Mahasiswa dan masyarakat yang berdemo saat itu dihadapi secara represif oleh aparat keamanan, bahkan ada yang diculik, dianiaya, dibunuh, dihilangkan secara paksa. Tapi, semangat menuntut perubahan tak padam.

Demo berdarah yang diwarnai kerusakan dan pembakaran terjadi di berbagai kota di Indonesia. Paling besar tentu saja di Jakarta. Mahasiswa dan aktivis dari berbagai daerah tumpah ruah ke Ibu Kota mengusung tujuan sama; reformasi.Ilustrasi

Kepemimpinan Soeharto dinilai penuh dengan sikap otoriter, korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) membudaya, utang negara membengkak, pers dibungkam, menggunakan militer untuk mempertahankan kekuasaan, pelanggaran HAM di mana-mana.

Puncak demo adalah mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR/MPR RI di Senayan, Jakarta. Soeharto yang sudah terdesak dan hilang kepercayaan rakyat akhirnya memilih putusan berat.

Mengutip Wikipedia, Kamis 21 Mei 199 pukul 09.00 WIB, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya di Istana. Dia mengaku sangat sulit menjalankan tugas dengan kondisi seperti saat itu.

“Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini,” kata Soeharto.

Pembacaan surat pengunduran diri Soeharto disiarkan langsung oleh televisi nasional. Di Gedung DPR-MPR, mahasiswa yang menonton langsung di TV bersorak riang penuh suka cita menyambut ‘kekalahan’ Soeharto dari rakyat.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini