Pemerintah Tunda Kedatangan 500 TKA China ke Sulteng

Fahreza Rizky, Okezone · Senin 11 Mei 2020 19:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 11 337 2212533 pemerintah-tunda-kedatangan-500-tka-china-ke-sulteng-PbpIjyrryc.jpg Foto Sindo

JAKARTA - Pemerintah menegaskan saat ini tidak ada Tenaga Kerja Asing (TKA) yang didatangkan di Sulawesi Tenggara (Sulteng). TKA baru akan diperbolehkan masuk jika situasi membaik.

"Pemerintah bertekad memutus mata rantai penyebaran Covid-19 antara lain dengan membatasi arus kedatangan manusia dari luar. Kebijakan ini berlaku hingga situasi normal dan dinyatakan aman," ucap Staf Khusus Presiden Bidang Hukum, Dini Purwono, melalui keterangan pers tertulisnya, Senin (11/5/2020).

Pernyataan ini disampaikan terkait rencana kedatangan 500 TKA asal Tiongkok atau China ke Sulawesi Tenggara.

 Baca juga: Tolak TKA China, DPR: Sikap MUI Se-Indonesia Rasional dan Tak Politis

Sejauh ini, kata Dini, TKA asal Tiongkok itu belum tiba di Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan baru pada tahap menyetujui permintaan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing yang diajukan oleh dua perusahaan.

"Kalaupun kelak mereka datang, seluruh tenaga kerja asing tersebut akan diwajibkan mengikuti rangkaian tes dan protokol kesehatan untuk memastikan mereka bebas virus Covid-19," imbuh Dini.

Dini melanjutkan, menurut informasi dari perusahaan di Sulteng, 500 TKA Tiongkok ini didatangkan karena mempunyai keahlian khusus menginstalasi pabrik pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter.

 Baca juga: DPR Minta Pemerintah Dengarkan Seruan MUI Tolak Pekerja Asing Masuk Indonesia

Penggunaan tenaga kerja dari luar ini terpaksa dilakukan oleh perusahaan karena tenaga kerja lokal belum mempunyai keahlian dalam memasang instalasi. Jika instalasi selesai, pabrik pengolahan dan pemurnian ini bisa menyerap tiga ribu tenaga kerja lokal.

Dini menambahkan, pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian merupakan amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Perusahaan diwajibkan melakukan mengolah bahan mentah sebelum dijual ke pasar dengan tujuan meningkatkan nilai tambah produk pertambangan.

"Pihak perusahaan menargetkan 500 tenaga kerja asing ini hanya akan bekerja maksimal enam bulan dan setelah instalasi selesai kembali ke negara asal. Selama bekerja, TKA asal Tiongkok itu juga diminta mentransfer keahlian mereka kepada tenaga kerja lokal sehingga kelak kita tidak perlu lagi tergantung kepada tenaga dari luar," tutur politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu.

Saat ini, lanjut Dini, Kementerian Ketenagakerjaan terus berkoordinasi dengan Gubernur dan DPRD Sulawesi Tenggara untuk mencari solusi terbaik agar di satu sisi upaya pencegahan Covid-19 ditegakkan, dan di sisi lain proyek yang bisa menyerap tiga ribu tenaga kerja lokal ini juga bisa berjalan karena menyangkut penghidupan banyak orang.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini