Derita ABK WNI di Kapal China: Makan Umpan Ikan Bau, Minum Air Laut & Kerja 48 Jam

Puteranegara Batubara, Okezone · Senin 11 Mei 2020 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 11 337 2212008 derita-abk-wni-di-kapal-china-makan-umpan-ikan-bau-minum-air-laut-kerja-48-jam-vD1Ibtuozv.jpg ABK WNI di Kapal China (Foto: BBC)

JAKARTA - Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) selama bekerja di Kapal China diduga kuat mengalami eksploitasi dan menjadi korban perdagangan orang. Hal itu terungkap dari fakta yang dirilis oleh kuasa hukum ABK itu.

"Selain peristiwa meninggalnya empat ABK dengan penyakit misterius, ABK Indonesia di Kapal Long Xing 629 juga mengalami eksploitasi dan menjadi korban perdagangan orang," kata salah satu Kuasa Hukum ABK Kapal Long Xing 629 DNT Lawyers, Pahrur Dalimunthe dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu (10/5/2020).

Selama bekerja, ABK WNI mengalami penderitaan yang cukup berat. Di antaranya, adalah dipaksa untuk makan-makanan tidak laik dan haram yang diberikan oleh ABK asal China.

"Hanya boleh makan makanan yang disiapkan tidak boleh komplen walau yang ada tidak layak atau bertentangan dengan agama, tidak boleh membantah perintah apapun dari kapten, tidak boleh melarikan diri dari kapal," ujar Pahrur.

Baca Juga: 14 WNI ABK Kapal China Masih Diperiksa di Rumah Perlindungan Trauma Center 

Selain itu, mereka juga sering diberi makanan berupa umpan ikan yang berbau sehingga mereka mengalami gatal dan keracunan makanan. Lalu, ABK Indonesia diberi makanan berupa sayur sayur dan daging ayam yang sudah berada di freezer sejak 13 bulan.

"Sedangkan ABK Tiongkok selalu memakan dari bahan yang masih segar yang di supply dari kapal lain dalam satu group. Koki Tiongkok membuat 2 pembagian masakan, yaitu makanan khusus ABK Tiongkok yang seluruhnya lebih segar dan menggunakan air minum botol, dan makanan khusus ABK Indonesia dengan makanan lama yang tidak segar dan berbau," papar Pahrur.

Foto KFEM/BBC 

Tak berhenti disitu derita ABK WNI. Pasalnya, selama bekerja mereka juga hanya diberikan minum dari saringan air laut. Padahal, itu berbahaya bagi kesehatan.

"ABK Indonesia hanya diberikan air sulingan dari air laut yang masih sangat asin, sedangkan ABK Tiongkok meminum air mineral dalam kemasan botol. Beberapa penelitian menunjukkan kebanyakan minum asin dapat menyebabkan hipertensi dan jantung," ucap Pahrur.

Baca Juga: Polri Usut Proses Keberangkatan ABK WNI di Kapal China 

Bahkan, para ABK itu harus kerja selama 18 hingga 48 jam apabila tangkapan ikan sedang banyak. Tetapi, kerja keras itu tidak diimbangi dengan upah yang layak.

"Gaji selama tiga bulan pertama tidak diberikan secara utuh karena alasan biaya administratif. Padahal menurut ketentuan dalam UU Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, pembebanan biaya rekrutmen kepada pekerja merupakan tindak pidana," paparnya.

Pembayaran gaji tidak sesuai kontrak. ABK tidak mendapatkan haknya sesuai perjanjian. Ada ABK yang hanya mendapatkan USD120 atau Rp1,7 juta setelah bekerja selama 13 bulan. Padahal, seharusnya ABK berhak mendapatkan minimum USD300 setiap bulan.

Selama 13 bulan, kapal terus berada di tengah laut tanpa pernah berlabuh atau melihat daratan. Hal ini diduga karena kapal melakukan aktivitas illegal sehingga menghindari pemeriksaan petugas di pelabuhan. Juga diduga untuk membatasi akses ABK untuk dapat mengadu ke pihak lain tentang kondisi tidak manusiawi diatas kapal.

Kontrak kerja (Perjanjian Kerja Laut) memuat unsur yang membuat ABK berada dalam kondisi rentan, antara lain jam kerja tidak terbatas semuanya ditentukan kapten. Di mana, kontrak itu memuat informasi yang tidak benar, seperti misalnya dalam kontrak disebut kapal berbendera Korea Selatan, nyatanya kapal berbendera Tiongkok.

"Dua orang ABK Indonesia mengalami kekerasan fisik oleh wakil kapten dan ABK senior Tiongkok," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini