Tingkat Stres Tinggi, ABK Indonesia Pernah Bunuh Kapten Kapal di Taiwan

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Sabtu 09 Mei 2020 15:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 09 337 2211532 tingkat-stres-tinggi-abk-indonesia-pernah-bunuh-kapten-kapal-di-taiwan-su0brBP8wD.jpg Foto Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Program Manager Union Migran (Unimig) Indonesia, Yuherina Gusman mengatakan, anak buah kapal (ABK) yang menjadi pekerja migran kapal asing kerap bekerja dengan tingkat stres yang tinggi.

Bahkan, kata dia, ada kasus ABK Indonesia yang membunuh kapten kapal tempatnya bekerja di Taiwan.

"Karena memang tingkat stresnya sudah sangat tinggi sekali. Jadi rata-rata ABK itu tidak punya tempat tinggal, jadi mereka tinggal di kapal, atau di tempat-tempat umum seperti taman, atau kayak saung-saung gitu yang ada di dekat kapal mereka," kata Yuherina dalam diskusi MNC Trijaya 'Perlindungan Pekerja Migran di Tengah Pandemi', Sabtu (9/4/2020).

Ia pun mendapati laporan bahwa banyak ABK yang bekerja tidak mendapatkan asuransi kesehatan di tengah pekerjaan yang berisiko tinggi.

 abk

"Akhirnya menjadi kaburan atau kabur dari sana, karena gajinya enggak terlalu besar, karena gajinya beda dengan tenaga kerja formal, mereka akan dihitungnya sebagai tenaga kerja informal," ujarnya.

Kandidat doktor Asia Pacifik Studies, National Chengi Univesity, Taiwan itu mengungkapkan bahwa banyak ABK asal Indonesia yang mendapatkan upah tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan. Selain itu, tak jarang proses perektrutan ABK tersebut juga dilakukan secara ilegal.

"Banyak mereka ini yang direkrut langsung dari pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, dibawa ke kapal dan dibawa ke Taiwan dan alhasil gajinya tidak sesuai dengan yang diatur oleh perundang-perundangan," imbuhnya.

Yuherina meminta pemerintah menyoroti persoalan tersebut. Saat ini, sambung dia, terdata sebanyak 10 warga negara Indonesia yang bekerja sebagai ABK di Taiwan.

 

"Yang tidak terdata yang mereka datang langsung dari kapal misalkan pelabuhan Cirebon didatangkan ke Taiwan itu juga banyak, dan mereka tidak terdata," sambungnya.

"Untuk alur koordinasi perlindungan teman-teman di sini kebetulan kami UNIMIG Taiwan bekerjasama dengan banyak pihak, pertama tentunya KDEI Kantor Dagang Ekonomi Indonesia di Taipei, sebagai perwakilan resmi pemerintah Indonesia di Taiwan. Terus kedua kami juga berkoordinasi dengan Depnaker Taiwan sendiri, yang ketiga teman-teman LSM lokal," tandasnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini