Transportasi Umum Diizinkan, Upaya PSBB Terancam Ambyar

CDB Yudistira, Okezone · Kamis 07 Mei 2020 20:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 07 337 2210706 transportasi-umum-diizinkan-upaya-psbb-terancam-ambyar-pnIg0F4rf2.jpg Ilustrasi (Dok. Okezone)

UPAYA Pemerintah Daerah yang tengah berjuang menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna memutus mata rantai Covid-19 terancam "ambyar". Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi malah memberi lampu hijau untuk mengizinkan kembali transportasi umum, yang meliputi transportasi darat, udara dan laut.

Pemberian izin transportasi umum, dianggap menciderai semangat PSBB yang dilakukan banyak daerah. Padahal, pelaksanaan PSBB, berhasil menekan angka penyebaran corona. Contoh halnya, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang mengklaim sejak diterapkannya PSBB, angka penyebaran Virus Corona di Jabar berkurang.

“Contohnya Bodebek dan Bandung Raya. Salah satu ukuran keberhasilannya adalah menurunnya tren angka reproduksi (RT) Covid-19. Padahal sebelum PSBB Bodebek dan Bandung Raya RT-nya tinggi, tapi setelah PSBB angka reproduksinya berkurang,” kata Gubernur Jabar Ridwan Kamil, beberapa waktu lalu.

Pernyataan Budi Karya, memang bersebrangan dengan apa yang diperjuangkan pemerintah Daerah, untuk memerangi corona. Dengan adanya pernyataan tersebut, ditakutkan akan membuat pergerakan masyarakat yang seharusnya, berdiam diri di rumah. Atas itupun Pemerintah Jabar hingga saat ini, belum memutuskan soal larangan mudik.

“Kita di daerah, harus all out, untuk mengecek di perbatasan. Jangan sampai di antaranya penumpang (pemudik) lolos. Karenakan larangan mudik itukan belum dicabut. Kita juga masih tunggu surat edaran dari menteri mengenai protokol atau kriteria penumpang yang dapat menggunakan transportasi tersebut,” kata Daud Ahmad, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar.

Sementara itu, Sony Sulakaono, pengamat transportasi ITB mengatakan Pemerintah Indonesia, sejak awal memang tidak konsiten dalam penanganan corona ini. Gugus-gugus tugas di daerah tidak diberikan kesempatan untuk memiliki komando.

"Pada pelaksanaannya jadi masing-masing, seperti diizinkannya kembali transportasi umum ini," kata Sony.

Baca Juga : Dari Wiranto hingga Moeldoko : Ora Mudik Ora Popo

Ia tidak memungkiri, kalau Indonesia negara kepulauan, yang membutuhkan pasokan logistik atau penambahan tenaga medis dalam penanganan Covid-19. Namun hal itu, seharusnya masih bisa dikoordinir oleh pemerintah dengan memberdayakan instansi.

"Contohnya kita bisa menggunakan hercules. Untuk darat bisa kereta khusus atau dami. Tapi ini kenapa komersil yang diizinkan. Kalau orang bisnis, itu lihatnya komersil," ucap dia.

Ada yang Takut Mudik

 

Meski transportasi umum sudah boleh beroperasi, sebagian masyarakat masih takut akan pulang ke kampung halaman. Seperti yang di ceritakan Arfa Sri Fantari (24) warga Pekanbaru, Sumatera, yang tinggal di Kota Cimahi, Bandung.

Sejak 2011, ia kuliah kemudian menikah dan ikut suami tinggal di Cimahi. Setiap tahun, Tari sapaannya, mengatakan sering mudik dengan menggunakan pesawat.

"Setahun sekali pulang, rencanaya lebaran ini pulang. Cuma rencana berubah pas Februari, gara-gara corona ini," kata Tari.

Tari mengatakan meski transportasi umum dapat beroperasi, ia takut untuk melakukan perjalanan mudik. Pasalnya, ia harus membawa anaknya yang masih balita dan dirinya pun dalam keadaan hamil.

"Kalau maksain juga ngapain. Ingin sih ketemu orang tua, tapi kan kondisi lagi gini. Ngeri, kena ke anak-anak," kata dia.

"Orangtua juga ngerti kondisi saya dan suami disini. Jadi yah lebaran ini, udah di pastiin gak pulang dulu," sambung dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini