Share

Gugus Tugas Beberkan Kelemahan Rapid Tes Antibodi untuk Deteksi Covid-19

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 05 Mei 2020 11:14 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 05 337 2209362 gugus-tugas-beberkan-kelemahan-rapid-tes-antibodi-untuk-deteksi-covid-19-hqGvijeyln.jpg Foto Ilustrasi Okezone

JAKARTA - Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Prof Wiku Bhakti Adisasmito mengakui bahwa rapid test yang saat ini marak dilakukan di beberapa lokasi, memiliki kelemahan dalam mendeteksi Covid-19 (Corona Virus Disease). Meskipun, hasil tes ini bisa cepat diketahui oleh masyarakat.

Prof Wiku menjelaskan, ada dua jenis Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk mendeteksi Covid-19. Dua jenis RDT tersebut yakni, antibodi dan antigen. Indonesia menggunakan RDT antibodi untuk mendeteksi dini ada tidaknya Covid-19 di tubuh manusia.

(Baca juga: Sosilisasi Masif, Polisi Sebut Warga DKI Jakarta Sudah Patuhi Aturan PSBB)

"RDT antigen di dunia ini sangat sedikit. Jadi yang sering dipakai di Indonesia yang RDT antibodi," kata Prof Wiku saat diskusi di Graha BNPB Jakarta yang disiarkan secara langsung, Selasa (5/6/2020).

 Rapid Tes

Prof Wiku mengungkapkan, RDT antibodi digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya antibodi di dalam tubuh manusia. Sebab, kata Wiku, antibodi manusia akan muncul setelah terpapar atau terinfeksi Covid-19, atau dengan kata lain ada perlawanan dari dalam tubuh manusia ketika diserang oleh virus.

"Nah biasanya, cara bentuk melawannya, biasanya yang bisa dilihat secara luar adalah mulai keluarnya gejala, batuk, demam, dan lain-lain," ungkapnya.

Namun memang, diakui Wiku, RDT antibodi yang saat ini banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mendeteksi Covid-19, memiliki kelemahan. Kelemahannya yakni, tingkat sensitifitas dan spesifikitasnya rendah.

"Jadi sensitifitas dan spesifikitasnya hanya sekitar 60 sampai 80 persen. Akibatnya, kalau tidak sensitif menemukan sesuatu yang positif, tapi setelah dites pakai alat yang standar yaitu RT-PCR tadi, bisa saja hasilnya lain," katanya. (wal)

Oleh karenanya, ia menganjurkan apabila hasil RDT antibodi menyatakan positif, hal itu perlu ditindaklanjuti dengan melakukan tes menggunakan RT-PCR atau realtime. RT-PCR merupakan salah satu tes yang hasilnya 90 persen dapat dipertanggungjawabkan.

"Bahwa yang standar utama itu kan memang RT-PCR. Tapi kan fasiitas untuk menggunakan RT-PCR itu lokasinya masih terbatas. Makanya bisa gunakan rapid tes dulu, dan kalau positif bisa dilanjutkan ke RT-PCR. Itu urutannya begitu biasanya," ujarnya.

RT-PCR (Real Time Pilymerase Chain Reaction) merupakan tes dengan mengambil sample lendir dari hidung atau tenggorokan manusia. Hasil sample nantinya akan langsung menunjukkan ada tidaknya Covid-19 di tubuh manusia. Tingkat sensitifitas dan spesifikitas RT-PCR kisaran 95 persen.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini