Share

Cerita Sopir Bajaj dan Angkot Mengais Rezeki di Tengah Pandemi Corona

Muhamad Rizky, Okezone · Kamis 30 April 2020 19:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 30 337 2207467 cerita-sopir-bajaj-dan-angkot-mengais-rezeki-di-tengah-pandemi-corona-lJT8cbNoKZ.jpg Sopir Bajaj, Suratno (Foto: Okezone/Muhamad Rizky)

JAKARTA - Suratno (50), seorang sopir bajaj nampak lesu di balik kemudinya. Siang itu, tak banyak aktivitas yang bisa ia dikerjakan. Hanya duduk-duduk sambil berharap ada penumpang yang meminta untuk diantar.

Sejak pagi pukul 06.00 WIB, Suratno sudah memanaskan mesin dan berangkat dari kontrakannya di kawasan Jakarta Selatan menuju Pasar Inpres, Cipete, Jakarta Selatan untuk mencari penumpang. Namun, tak banyak yang bisa di dapatnya hari ini. Sudah hampir 8 jam berburu penumpang hanya mampu mengumpulkan uang Rp50 ribu.

"Ini dari pagi sampai jam segini (14.00 WIB) baru dapat Rp50 ribu, biasanya bisa Rp150 ribu," ucapnya saat ditemui Okezone, Kamis (30/4/2020).

Baca Juga:Ā 67 Ribu Reagen PCR Didistribusikan ke 9 ProvinsiĀ 

Suratno merasakan betul bagaimana perihnya mencari uang di tengah wabah corona. Ia hanya bisa pasrah sembari tetap berusaha seperti hari-hari biasanya demi mencari rezeki untuk keluarganya di Jawa Tengah.

Sopir angkotĀ 

Suratno "single fighter" di Jakarta. Semua keluarga isteri dan tiga orang anaknya tinggal di kampung Jawa Tengah. Setiap minggu biasanya bisa mengirimkan uang, namun saat pandemi seperti ini, ia pun kesulitan.

Jangankan untuk mengirim uang, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan membayar sewa kontrakan sangat berat dilakukan.

"Dulu seminggu sekian sekarang enggak bisa. Kemarin aja saya telat bayar kontrakan itu karena kaya gini enggak ada pemasukan jadi nunggak," bebernya.

Kondisi yang serba sulit membuat Suratno berpikir untuk kembali ke kampung berkumpul bersama keluarga. Namun, hal itu tak bisa dilakukan mengingat pemerintah telah membuat aturan larangan mudik.

Baca Juga:Ā Pasien Positif Covid-19 Paling Banyak Berasal dari Usia ProduktifĀ 

Alhasil, mau tidak mau ia tetap harus berjuang di pinggiran Ibu Kota di tengah wabah corona. Meski begitu, ia berharap pemerintah bisa memberi perhatian lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup khususnya para sopir bajaj.

Tak jauh berbeda, Mulyono (50) sopir angkot M20 jurusan Jagakarsa-Pasar Minggu ini juga merasakan pahitnya mencari penumpang di tengah virus Covid-19. Sejak pemerintah menerbitkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penumpang mendadak hilang.

Dalam satu kali perjalanan atau satu rit Mulyono hanya bisa mendapat Rp10 sampai Rp20 ribu. Kondisi tersebut berbanding terbalik disaat kondisi normal yang bisa mendapat lebih dari Rp50 ribu.

"Penghasilan turun drastis sekarang ini 80 persen hilang. Sekarang satu hari 100 ribu lah dapat paling," tuturnya.

Hasil itu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Mulyono tinggal bersama isteri dan dua anaknya yang kini duduk di sekolah SMK dan SD.

Sebagai tambahan memenuhi kebutuhan sehari-hari terpaksa sang istri ikut bekerja di rumah tetangganya. Semua itu dilakukan demi bisa bertahan hidup ditengah kondisi ekonomi yang kian memerihatinkan.

"Mudah-mudahan ini semua cepat selesai biar, senua yang kerja kembali normal lagi," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini