Share

Jalur Disekat, Pemudik Kok Masih Nekat Lewat?

Salman Mardira, Okezone · Senin 27 April 2020 19:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 27 337 2205714 jalur-disekat-pemudik-kok-masih-nekat-lewat-BXz5NkyoNb.jpg Pengendara sepeda motor (Okezone.com/Heru)

PEMERINTAH melarang mudik mulai Jumat 24 April 2020 untuk menekan penyebaran virus corona (Covid-19). Tapi, masih ada saja masyarakat nekat mencari cara agar tetap bisa pulang ke kampung, meski polisi sudah menyekat sejumlah titik.

Polri menggelar Operasi Ketupat 2020 hingga 31 Mei. Jika tahun sebelumnya operasi ini salah satu tujuannya untuk mengamankan arus mudik, kali ini sebaliknya; mengawasi orang agar tidak mudik.

Ada 175.000 personel dilibatkan terdiri dari Polri, TNI, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Satpol PP dan pemerintah daerah.

"‎Operasi Ketupat 2020 berlaku di 34 polda seluruh Indonesia dari Aceh-Papua,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Argo Yuwono beberapa waktu lalu.

Baca juga: Mudik Dilarang Setelah Nyaris 1 Juta Orang Pulang Kampung

Dalam Operasi Ketupat, Korlantas melakukan penyekatan di 58 titik untuk mencegah orang mudik. Enam titik di Banten, 18 titik di DKI Jakarta, 17 titik di Jawa Barat, 5 titik di Jawa Tengah, 3 titik di DIY, dan 9 titik di Jawa Timur.Ilustrasi

Ilustrasi mudik (Okezone.com/Arif)

Kemudian pengamanan jalur mudik dilakukan berlapis tim gabungan. Polres-polres juga menyekat jalan-jalan arteri. “Kalau di sini lolos akan terjaring di chek point berikutnya, begitu sampai Jateng,” kata Kakorlantas Polri Irjen Istiono menggambarkan betapa ketatnya pengawasan.

Tapi, Ranu (34), seorang warga, bisa lolos pulang ke Cirebon menggunakan minibus travel dari Bekasi, Jawa Barat setelah larangan mudik berlaku. Perjalanan dilakukan malam untuk menghindari ketatnya pemeriksaan.

“Malam sepi enggak ada penjagaan atau pegawasan kayak di siang hari," kata dia saat berbincang dengan Okezone, Senin (27/4/2020).

Ranu terpaksa mudik karena mata pencahariannya di Bekasi hilag akibat corona. "Gimana lagi, mau makan apa saya di sana?” ujarnya saat ditanya alasan mudik.

Pada Jumat lalu, sejumlah orang juga nekat mudik dengan duduk di bagasi bodi bus agar lolos dari razia. Itu terlihat di Terminal Ciledug, Kota Tangerang, Banten dan sempat viral. Mereka dilaporkan membayar Rp450 ribu agar terangkut ke kampung halaman.

Baca juga: Viral Mobil Dimasukkan ke Truk, Akal-akalan Supaya Bisa Mudik?

Jumat hingga Sabtu lalu, polisi mendapati 8.373 pengendara yang hendak mudik. Kendaraan terdiri dari bus, mobil pribadi hingga motor itu kemudian dipaksa putar balik oleh petugas, setelah terjaring di 59 titik pemantauan dari Lampung sampai Jawa.Ilustrasi

Razia pemudik (Istimewa)

Ada juga warga nekat mudik lewat jalan-jalan kampung alias jalur tikus yang tak dipantau petugas, terutama pengguna sepeda motor.

“Memang pasti ada yang kucing-kucinganan, terutama malam hari,” kata Direktur Keamanan dan Keselamatan (Dirkamsel) Korlantas Polri, Brigjen Chryshnanda Dwilaksana terkait masih ada warga mudik dan bus angkut penumpang meski dilarang.

Menurutnya mereka memanfaatkan kelonggaran pengawasan, terutama di tol. “Saya lihat dari Jakarta sampai Magelang, memang masih ada yang tidak tegas kalau di tol,” ujarnya.

Akrobat Personal

Menurut pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, angka warga yang patuh untuk tidak mudik lebih tinggi ketimbang melanggar. Lalu, kenapa masih ada yang nekat mudik?

“Memang ada beberapa warga yang masih menunjukkan akrobat personal upaya melakukan pulang kampung atau mudik. Nah, tapi angkanya tidak besar,” kata Devie kepada Okezone.

“Artinya bukan masyarakat tidak patuh, bukan kebijakannya gagal. Tapi memang selalu ada kelompok masyarakat yang melakukan upaya akrobat personal. Ini bukan satu peristiwa yang aneh atau buruk. Tapi ini satu peristiwa yang normal. Sehingga aparat perlu memperketat saja.”

Anggota DPR RI Saleh Partaonan Daulay mengatakan, ada alasan berbeda masyarakat mudik tahun ini. Jika dulu mudik untuk bersilaturahmi dan berhari raya di kampung, kali ini lain.

“Sekarang, alasan yang lebih dominan justru karena mereka tidak memiliki pekerjaan lagi di kota. Ada yang di-PHK, ada yang usahanya terpaksa tutup, ada yang tidak bisa bekerja karena orang tidak keluar rumah, dan lain-lain. Karena kehidupan di kota dianggap lebih susah, akhirnya banyak yang memutuskan untuk mudik,” kata politikus PAN.

Saleh meminta aparat bertindak tegas agar seluruh masyarakat mentaati larangan mudik.

Tapi, polisi masih mengedepankan persuasif menghadapi pelanggar. Aparat dilema. Jika diambil tindakan tegas, maka dikhawatirkan bisa menimbulkan konflik mengingat banyak warga mudik karena masalah “perut”.

“Karena ini yang waras adalah ngalah dan harus bisa memahami. Saya lihat potensi konlik besar sekali,” kata Brigjen Chryshnanda Dwilaksana.

Devie Rahmawati mengapresiasi sikap persuasif aparat menghadapi pelanggar larangan mudik. “Apa yang dilakukan aparat itu sekrang secara nyata hadir di lapangan lalu kemudian menggunakan pendekatan persuasif sekarang sudah cukup tepat.”

Mudik di Luar Negeri 

Selain Indonesia, negara lain yang memiliki banyak penduduk Muslim juga punya tradisi mudik saat Hari Raya Idul Fitri. Sebut saja Malaysia, Arab Saudi, Bangladesh, Yordania, Pakistan, Turki, bahkan Nigeria. Jalan-jalan di negara itu kerap ramai pemudik jelang lebaran.

Tapi, tahun ini bakal berbeda mengingat Covid-19 sudah jadi pandemi global. Sejumlah negara mengisolasi diri dengan membatasi pergerakan masyarakat dalam rangka melawan corona. Beberapa di antaranya seperti Malaysia, Arab Saudi, Turki, Yordania bahkan menerapkan lockdown alias kunci wilayah.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini