Share

Musibah Kelaparan Melanda Dunia di Tengah Pandemi Covid-19

Rachmat Fahzry, Okezone · Jum'at 24 April 2020 09:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 24 337 2204105 musibah-kelaparan-kini-melanda-dunia-di-tengah-corona-8nZQugSYEC.jpg Potret kemiskinan di Indonesia (foto: istimewa)

LAPORAN Global 2020 tentang krisis makanan yang diterbitkan oleh Program Pangan Dunia (WFP), Organisasi Pangan dan Pertanian (FPO) dan 14 lembaga lainnya, menyebutkan bahwa virus corona bisa menyebabkan peningkatan kasus kelaparan di dunia.

Pasalnya, pandemi virus corona yang menyebabkan penyakit COVID-19 telah menghancurkan ekonomi dunia, karena sejumlah negara menerapkan karantina wilayah alias lockdown.

Sesuai pedoman dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pemerintah di dunia dianjurkan menerapkan protokol lockdown guna menahan laju penyebaran virus corona.

(Baca Juga: Pimpinan Gerindra Bela Jokowi soal Perbedaan Mudik dan Pulang Kampung)

India, negara berpenduduk sekira 1,3 miliar, menerapkan lockdown pada 25 Maret hingga 3 Mei. Akibatnya, jutaan buruh dengan gaji harian kehilangan pekerjaan mereka. Para buruh juga berjalan kaki ratusan kilometer menuju ke desa asal mereka.

Indrajeet, buruh pabrik sepatu di Mumbai, India, pada awal protokol lockdown diberlakukan, hanya meminum air untuk bertahan hidup.

kemiskinan2

"Saya hanya minum air di hari-hari awal lockdown ketika saya merasa lapar," kata Indrajeet menyitir Al Jazeera. "Selama beberapa hari terakhir, saya setidaknya berhasil makan sekali sehari," ujar dia lagi.

Dia mengatakan pemilik pabrik sepatu mematikan teleponnya ketika lockdown diterapkan.

Dampak aturan lockdown, banyak para pekerja bekerja dari rumah, transportasi dihentikan, penutupan sektor usaha, hingga mewajibkan warga untuk tinggal di rumah, dan hanya keluar untuk urusan penting, seperti membeli makanan dan obat.

Laporan WFP mengatakan, sebelum ada pandemi COVID-19, 135 juta orang di dunia menderita kelaparan parah. Angka ini bisa berlipat ganda jika tidak ada tindakan cepat dan kuat dalam mengatasi virus corona.

Laporan itu menyatakan penyebab utama kelaparan di dunia adalah konflik, perubahan iklim, dan krisis ekonomi. Dikatakan bahwa Afrika adalah benua yang terkena dampak terburuk, diikuti oleh Asia dan Amerika Latin.

"Jika kita tidak membantu, nyawa mereka terancam. Jadi, jika kita tidak membantu, mereka akan meninggal. Setiap hari dalam keadaan normal ada sekitar 21.000 orang yang meninggal karena kelaparan. Setiap hari [meninggal] bukan karena COVID-19, seorang anak meninggal setiap 10 detik karena kurang gizi,” tutur Kepala Ekonom Program Pangan Dunia Arif Husain mengutip VOA.

Husain mengatakan tindakan cepat harus diambil untuk membantu penduduk di negara-negara itu dan negara lain yang berisiko.

kelaparan

“Kita tidak boleh melupakan sektor pertanian. Kita memiliki cadangan yang baik sekarang, tetapi jika rantai pasokan berhenti dan benih, pupuk dan lain-lain tidak sampai ke petani atau petani tidak bisa pergi ke ladang mereka, apa yang akan terjadi tahun depan? Tahun depan, kita benar-benar akan kekurangan pangan, dan itu harus kita hindari,” kata dia.

Di daerah kumuh terbesar di Nairobi, ibu kota Kenya, warga yang putus asa menyerbu pembagian tepung dan minyak goreng, menyebabkan banyak orang terluka dan dua orang tewas.

"Kami tidak punya uang, dan sekarang kami harus bertahan hidup," kata Pauline Karushi, yang kehilangan pekerjaannya, dan tinggal bersama anaknya dan empat kerabat lainnya, mengutip NY Times.

Freddy Bastardo, yang sudah tidak bekerja sebagai penjaga keamanan di Caracas, Venezuela, hanya berharap mendapat bantuan dari pemerintah selama wabah virus corona. Di negara ini, sebelum virus corona mewabah, konflik telah menyebabkan kelaparan di seleuruh negeri.

Bastardo mengatakan bahwa jatah bantuan yang disediakan pemerintah, setiap dua bulan sekali, sebelum krisis COVID-19, telah lama habis.

"Kami berencana menjual barang-barang yang tidak kami gunakan di rumah untuk bisa makan," kata Bastardo. "Saya punya tetangga yang tidak punya makanan,” lanjut dia lagi.

Souzan, ibu dua anak berusia 50 tahun yang tingal di Beirut, Lebanon mengaku bahwa situasi akibat wabah corona di Lebanon lebih parah daripada perang. "Kami belum pernah melihat hari-hari gelap ini," kata Souzan mmengutip Al Jazeera.

Lebanon masih terus berjuang setelah porak poranda akibat dampak konflik sipil yang berakhir 1990.

Menteri Urusan Sosial Ramzi Moucharafieh memperkirakan sekitar 75 persen dari populasi Lebanon membutuhkan bantuan.

Laporan gabungan menyebutkan, badan dunia membutuhan dana USD1,9 miliar (sekira Rp 29 triliun) segera, untuk memastikan makanan tersedia demi membantu orang selama tiga bulan ke depan, terutama orang-orang yang terjebak di zona-zona perang.

Kelaparan di Indonesia

Bukan hanya di India, Afrika, Venezuela, Lebanon atau negara Eropa sekalipun dirundung terancam kelaparan warganya dampak dari corona ini. Begitupun Indonesia dengan 267 juta penduduknya (2019) menurut data BPS dan sebanyak 24,79 juta jiwa masih di bawah garis kemiskinan.

Adapun sepanjang tahun lalu, sebelum corona datang, angka kemiskinan Indonesia sudah mengalami penurunan. Dari awalnya 25,14 juta orang pada Maret 2019, menjadi 24,79 juta orang pada September 2019. Sehingga saat itu, angka kemiskinan sudah mencapai 9,22 persen.

Contoh paling nyata adalah corona sudah membuat warga Indonesia kesulitan mencari nafkah hingga kelaparan. Baru-baru ini, viral di media sosial Facebook dua orang anak yatim piatu yang kelaparan di Dusun II Sebau Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Viralnya berita ini setelah dua anggota Bhabinsa dari Koramil dan Bhabinkamtimas Polsek Gelumbang memberikan sembako dalam rangka baksos wabah virus Corona. Kedua kakak beradik ini ditemukan dalam kondisi kurus kering karena kelaparan.

Dalam video berdurasi 25 detik itu, personel Polri dan TNI tengah datang ke sebuah rumah. Di rumah itu terlihat dua kakak beradik dalam kondisi sangat kurus. Satu terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang sudah kurus kering. Sedangkan satu lagi masih sanggup berdiri, tapi sudah kurus dan terlihat tidak terurus.

Di Serang Banten, seorang ibu warga Kelurahan Lontarbaru, Kecamatan/Kota Serang, Provinsi Banten, bernama Yuli Nurmelia (43), meninggal dunia diduga karena kelaparan akibat pandemi corona virus disease (covid-19). Ia wafat pada Senin 20 April 2020, sekira pukul 15.30 WIB.

Ibu Yuli dan keluarga sebelumnya ramai diberitakan karena selama dua hari mengalami kelaparan. Mereka pun hanya bisa meminum air galon isi ulang dan singkong yang dimilikinya.

kemiskinan2

Kolid, suami dari Ibu Yuli, mengungkapkan bahwa istrinya itu tidak memiliki riwayat penyakit apa pun. Namun sebelum meninggal, istrinya sempat pingsan, lalu dibawa ke puskesmas setempat.

Musibah Baru saat Corona

Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Imam Prasodjo berharap, dengan terpuruknya perekonomian warga akibat wabah virus ini, jangan sampai muncul musibah baru yakni, masyarakat yang kelaparan.

"Jangan sampai musibah ingin menghindar dari corona, terus justru datangkan musibah baru yaitu kelaparan. Kami tak rela negeri ini, saudara kita karena ingin hindari virus tapi kemudian dia ke ancam oleh kelaparan itu," kata Imam dalam jumpa pers live streaming di Gedung Graha BNPB Jakarta, Kamis (23/4/2020).

Dalam memangkas mata rantai penyebaran Covid-19, pemerintah telah menyetujui beberapa daerah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurut Imam, kebijakan PSBB juga mengakibatkan berhentinya roda perekonomian warga yang mencari nafkah sehari-hari. Hal itu dirasakan secara langsung baik tak langsung.

Karena itu, Imam meminta kepada pemerintah, lembaga dan kelompok masyarakat untuk lebih meningkatkan solidaritas kepada mereka yang benar-benar terkena imbas dari tersendatnya roda keuangan di tengah pagebluk virus ini.

"Solidaritas kepada orang yang terimbas, solidaritas pada mereka yang terhenti nafkahnya, karena kita lakukan PSBB itulah yang seharusnya kemudian digalang," ujar Imam.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini