Ramadan di Tengah Covid-19 dan Perubahan Tradisi Muslim Indonesia

Khafid Mardiyansyah, Okezone · Selasa 21 April 2020 16:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 21 337 2202679 ramadan-di-tengah-covid-19-dan-perubahan-tradisi-muslim-9VbdRwH1KL.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

TANGIS Syekh Ali Jaber pecah saat menjelaskan betapa nikmatnya Ramadan kali ini. Nikmat yang dimaksud ulama kelahiran Madinah tersebut adalah nikmat diingatkan akan rasa syukur yang sering terlupa.

"Saya berpikir dan renungkan, ternyata kita selama ini banyak nikmat yang mohon maaf, kita tak sadar dan syukuri. Ternyata salat jumat selama ini, sebelum covid-19 itu nikmatnya luar biasa, silahturahmi itu nikmat, keluar rumah cari rejeki itu nikmat, kita antar sekolah anak itu nikmat," jelasnya sambil terisak dalam konferensi pers secara daring di Youtube BNPB, Selasa (21/4/2020).

Ia pun mengajak semua pihak untuk bersyukur atas nikmat Allah yang sering kita tak sadari. Untuk itu, ia mengajak masyarakat untuk diam dan bersama beribadah di rumah, agar Pandemi Covid-19 bisa segera berakhir.

"Jangan panik dan takut. Diam di rumah solusi tepat dalam kondisi sekarang, aktivitas dan ibadah di rumah bisa terasa sungguh nikmat jika dalam situasi mewabahnya penyakit seperti saat ini," kata Syekh Ali Jaber.

Ali Jaber

Suara langkah kaki menuju masjid mungkin tak akan terdengar saat Ramadan nanti. Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan imbauan untuk tidak melakukan salat tarawih berjamaah di masjid. Langkah tersebut diambil untuk mencegah penularan Virus Corona.

Di Indonesia sendiri, ada sekira 800.000 masjid, artinya setiap 220 muslim di Indonesia memiliki masjid sendiri. Masjid sudah menjadi identitas bagi masyarakat Indonesia, seperti Kata Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla.

Sepinya masjid dari jamaah merupakan bencana bagi guru ngaji, mubalig, hingga marbot. Mereka yang bertumpu penghasilannya dengan berkutat di masjid kini mengalami imbas secara ekonomi.

Ketua Ikatan Sarjana Quran Hadist Indonesia Ustadz Fauzan Amin mengatakan, nasib guru ngaji, ustadz, dan dai secara ekonomi tidak jauh beda dengan nasib ojol, penjual kelontong, dan pedagang kaki lima.

"Yang kasihan adalah para guru ngaji, dai, ustadz yang sehari-hari pekerjaannya hanya mengajar, ceramah, dan khutbah. Mereka betul-betul terpukul secara ekonomi. Dan yang begini di DKI sangat banyak," ujar Ustadz Fauzan Amin saat dihubungi Okezone.

Ilustrasi

Selain dampak ekonomi terhadap marbot dan mubalig, dampak spiritual juga dirasakan masyarakat akibat pelarangan salat di masjid. Bagi mereka, tarawih adalah ibadah yang menjadi pembeda bulan Ramadan dengan bulan-bulan lainnya.

Namun, jauh dari masjid bukan halangan kita tak bisa ikut memakmurkan masjid. Salah satu dokter dan juga influencer di media sosial, dr Andi Khomeini Takdir menjelaskan bahwa masyarakat bisa memakmurkan masjid, namun tetap bisa mencegah penularan Virus Corona.

“Lagi jarang ke masjid. Tapi rindu. Ini yang bisa kita lakukan, donasi untuk bangun masjid. Semoga pahala wakafnya ngalir. Lalu, sumbang dana perawatan masjid. Kirim makanan buat marbot masjid. Datang sebentar ke masjid buat ngebersihin. Tetap pake masker,” jelas Andi dalam akun Twitternya @dr_koko28.

Cara lain untuk tetap bisa melakukan salat tarawih dilakukan salah satu warga Bojonggede, Bogor, Edy Supriyanto. Ia mengaku mengubah salah satu ruang di rumahnya menjadi musalah yang akan digunakan sebagai sarana salat tarawih bersama istri dan dua anaknya.

Sementara, dari Tanah Suci Makkah, seorang Muzain bernama Ali Mulla menangis ketika mendapat kabar dari Kerajaan Arab Saudi memperpanjang penangguhan salat berjemaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama bulan Ramadan tahun ini untuk membendung penyebaran virus corona. Iktikaf atau berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah juga tidak diperbolehkan.

BBC

Keputusan ini diumumkan pihak pengelola kedua masjid itu melalui Twitter, dengan mengutip Presiden Jenderal Sheikh Dr. Abdulrahman bin Abdulaziz Al-Sudais.

Bagaimanapun, tidak semua orang menerima keputusan ini dengan lapang dada. "Hati kami menangis," kata Ali Mulla, muazin di Masjidil Haram.

"Kami terbiasa melihat masjid suci penuh orang selama siang, malam, setiap saat. Saya merasa sakit di dalam," tambahnya, kepada kantor berita AFP.

Pada awal bulan April, memberlakukan jam malam selama 24 jam di kota suci Mekah dan Madinah sebagai bagian dari upaya untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

Tak Kurangi Kualitas Ibadah

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau agar seluruh umat Islam melaksanakan ibadah di rumah selama Bulan Suci Ramadan di tengah pandemi Covid-19.

Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin menekankan, selama terjadinya wabah penyakit di Indonesia, ibadah di rumah tidak akan mengurangi kualitas keagamaan seorang umat.

"Jangan sampai kita menjemput bahaya, kita berkerumun di suatu tempat, termasuk di tempat-tempat ibadah. Itu sangat berpotensi untuk kita membahayakan diri kita dan juga orang lain," kata Kamaruddin.

Tarawih di Washington

Terkait hal itu, Kamaruddin membacakan hadis Rasulullah SAW yakni, "kita tidak boleh mencari atau menjemput bahaya, dan juga tidak boleh menularkan bahaya itu kepada orang lain".

Kamaruddin menjelaskan, meskipun sebagai umat Muslim memahami dan menyadari, betapa pentingnya dan betapa mulianya berada atau beribadah di masjid, akan tetapi dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, wajib hukumnya untuk tetap berada dan beribadah di rumah.

Sementara itu, Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menilai, penambahan status darurat corona guna melindungi masyarakat dari ancaman penyebaran virus corona yang kini telah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO.

"Pemerintah punya hak untuk memperpanjang dan atau memperpendek masa darurat corona. Tujuannya tentu adalah untuk melindungi dan untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat," kata Anwar kepada Okezone.

Anwar menambahkan, MUI mengimbau agar persoalan ibadah umat Islam yang akan dilaksanakan saat Ramadan bisa mengikuti fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situsasi Terjadi Wabah Covid-19.

"Kalau menyangkut masalah ibadah sudah ada tuntunannya dalam fatwa. Jika memang situasinya dimana potensi penularannya tinggi tentu usaha dan upaya pencegahan juga harus dilakukan dengan cara yang superketat agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan," ujarnya.

Perubahan Tradisi Muslim saat Ramadan

Pandemi Covid-19 mau tak mau mengubah tradisi masyarakat dalam menyambut Ramadan. Pawai obor, bunyi letupan petasan, buka puasa bersama hingga suara anak-anak di masjid dipastikan tak akan ada pada Ramadan kali ini.

"Sedih banget, biasanya bulan puasa itu saatnya reuni juga sama teman sekantor, teman sekolah dulu atau keluarga besar lewat buka puasa bersama. Tapi kayaknya sekarang gak bisa, sedihnya tuh di sini," ujar salah satu karyawan swasta, Bima saat diwawancarai Okezone.

Ilustrasi

Sementara itu, Gunawan, warga Tanjung Barat Jakarta Selatan pun menyayangkan tak ada lagi kemeriahan selama bulan puasa. Tak ada pawai obor, petasan hingga "siklus" tarawih.

"Kalau awal Ramadan, itu pasti ramai yang tarawih, makin ke sini malah makin sepi. Kadang itu juga kesan selama Ramadan yang mungkin gak ada sekarang," ungkapnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini