Kasus Suap PAW, Saksi Ungkap Pertemuan Hasto dengan Wahyu Setiawan

Muhamad Rizky, Okezone · Senin 13 April 2020 20:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 13 337 2198597 kasus-suap-paw-saksi-ungkap-pertemuan-hasto-dengan-wahyu-setiawan-riaTZTVUVv.jpg Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto. (Foto : Okezone.com/Fakhrizal Fakhri)

JAKARTA – Sidang kasus suap pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI yang menyeret mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan, menghadirkan ajudan Wahyu Setiawan, Rahmat, sebagai saksi di Pengadilan Tipikor.

Dalam kesaksiannya, Rahmat mengungkap nama Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto yang pernah melakukan pertemuan dengan Wahyu Setiawan.

"Saudara saksi pernah tidak Pak Wahyu bertemu dengan Pak Hasto Kristiyanto," tanya hakim anggota Titi Sansiwi di Pengadilan Tipikor, Senin (13/4/2020).

Rahmat kemudian menjawab tidak pernah melihat Hasto dan Wahyu Setiawan bertemu. "Tidak pernah," jawab Rahmat melalui teleconference.

Namun Titi, menegaskan kembali pertanyaannya tersebut. Sebab dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Rahmat mengaku bahwa Hasto dan Wahyu beberapa kali melakukan pertemuan.

"Itu saat 2019 saat rekapitulasi. Pak Hasto Kristiyanto dan tim kebetulan sebagai saksi keterwakilan dari DPP PDI Perjuangan datang ke kantor (KPU RI)," kata Rahmat.

Terjaring OTT, KPK Tahan Komisioner KPU Wahyu Setiawan

Titi kembali menegaskan, berapa kali pertemuan antara Wahyu dan Hasto.

"Seingat saya kalau tidak salah itu sekali, waktu di ruangan, waktu istirahat, makan siang," jelas Rahmat.

Titi bertanya apakah ada pertemuan lain setelah acara rekapitulasi tersebut. Namun menurut Rahmat hanya di saat waktu istirahat. "Istirahat. Jadi merokok itu biasa. Bapak (Wahyu-red) kan merokok," tutur Rahmat.

Titi menanyakan apakah Rahmat mendengar apa topik yang dibicarakan saat Hasto dan Wahyu bertemu. "Saudara dengar tidak apa yang dibicarakan," tanya Titi.

Rahmat berdalih dirinya tidak mengetahui apa yang saat itu dibahas oleh Wahyu dan Hasto di Kantor KPU RI. "Tidak bu, (pertemuan keduanya) di dalam, saya ruangannya di luar ruangan Bapak (Wahyu)," ujarnya.

Sejauh ini, KPK baru menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proses pergantian antarwaktu (PAW) di DPR RI. Empat tersangka tersebut yakni, mantan komisioner KPU, Wahyu Setiawan (WSE), mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF).

Kemudian, calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Harun Masiku (HAR) dan pihak swasta, Saeful (SAE). Wahyu dan Agustiani ditetapkan sebagai pihak penerima suap. Sedangkan Harun dan Saeful merupakan pihak yang memberikan suap.

Dalam perkara ini, Wahyu diduga meminta fee sebesar Rp900 juta untuk meloloskan Harun Masiku sebagai anggota DPR pengganti Nazarudin Kiemas yang telah meninggal dunia. Namun Wahyu baru akan menerima Rp600 juta dari proses pelolosan tersebut.

Baca Juga : Cegah Corona, Petugas KPK Pakai APD dalam Memburu Harun Masiku dan Nurhadi

Uang Rp600 juta dibagi dalam dua tahapan. Pada tahapan pertama, ada aliran suap Rp400 juta yang saat ini masih didalami sumbernya. Hanya saja, Wahyu hanya menerima senilai Rp200 juta dari total Rp400 juta. Sisanya atau senilai Rp200 juta, diduga digunakan oleh pihak lain.

Baca Juga : Kader PDIP Saeful Bahri Didakwa Suap Eks Komisioner KPU Rp600 Juta

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini