Narapidana Lebih Tepat Dibantarkan Ketimbang Bebas Selama Darurat Corona

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Minggu 12 April 2020 13:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 12 337 2197946 narapidana-lebih-tepat-dibantarkan-ketimbang-bebas-di-tengah-corona-co5fkFQZm0.JPG Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Habiburokhman (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kebijakan pembebasan narapidana yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen Pas) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) menuai reaksi di kalangan narapidana itu sendiri.

Aturan yang dibuat demi menekan angka penyebaran virus corona (Covid-19) itu kerap kali disalahtafsirkan hingga akhirnya menuai pro kontra.

Teranyar, kerusuhan terjadi di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA, Tuminting, Manado, Sulawesi Utara pada Sabtu 11 April 2020. Kerusuhan itu diduga kuat akibat warga binaan khawatir terjangkit virus corona dan meminta untuk dibebaskan.

Anggota Komisi III DPR, Habiburokhman memandang kerusuhan napi yang terjadi di lapas merupakan bom waktu dari adanya program asimilasi akibat pandemi virus corona hanya diperuntukkan bagi narapidana umum.

Terlebih, program tersebut tidak diperuntukkan bagi narapidana kasus narkoba. Kericuhan di Kelas IIA, Tuminting, Manado, pun terjadi usai para narapidana narkoba meminta untuk dibebaskan sebagai konsekuensi atas kebijakan Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham tadi.

“Sejak awal saya memang khawatir hal ini terjadi sudah seperti bom waktu. Lebih dari setengah penghuni lapas adalah kasus narkoba, padahal mereka enggak bisa dapat remisi dan asimilasi karena ada PP 99 Tahun 2012,” ujar Habiburokhman saat berbincang dengan Okezone di Jakarta, Minggu (12/4/2020).

Untuk mencari jalan tengah dan tak terjadi kericuhan di lapas, politikus Partai Gerindra ini berujar bahwa bisa saja sementara para narapidana dibantarkan atau dikembalikan ke pihak keluarga untuk mencegah virus corona. Setelah pandemi itu bisa diatasi, barulah mereka kembali menjalani masa hukuman sebagaimana aturan berlaku.

“Mungkin mereka ini bisa dibantarkan dahulu, dikembalikan ke keluarga selama corona dan kembali ditahan saat corona usai tanpa kurangi masa hukuman,” imbuh dia.

Lebih lanjut Habiburokhman berharap ke depannya pemerintah harus mencari solusi ikhwal para narapidana kasus narkoba ini. Sebab menurut dia, tidak semua mereka yang menghuni di sana adalah bandar narkoba.

Ilustrasi

“Banyak juga pemakai dan yang diputus sebagai kurir,” imbuhnya.

Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) Kemenkumham, Nugroho mengatakan, para narapidana dan anak yang diberikan asimilasi serta integrasi telah melalui tahap penilaian perilaku. Mereka dinilai sudah berkelakuan baik, mengikuti program pembinaan dan tidak melakukan tindakan pelanggaran disiplin dalam lembaga.

“Dan sebelum mereka kembali ke masyarakat petugas kami memberikan edukasi, menyampaikan aturan-aturan kedisiplinan yang tidak boleh dilanggar selama menjalankan asimilasi dan integrasi serta sanksi yang akan mereka peroleh apabila melanggar, seperti membuat keresahan di masyarkat apalagi mengulangi melakukan tindak pidana," ucap Nugroho terpisah.

Nantinya kata dia, Kepala Lembaga Pemasyarakatan dan Rumah Tahanan Negara serta Balai Pemasyarakatan (Bapas) akan tetap melakukan pemantauan kepada narapidana yang menjalani masa asimilasi dan integrasi dengan cara virtual. Hal ini untuk memastikan narapidana tetap berada di rumah dan menjalankan segala konsekuensi program tersebut.

“Ini penting untuk memastikan bahwa narapidana tetap berkelakuan baik serta tetap berada di rumah selama menjalankan masa asimilasi dan integrasi mengingat bisa saja jika lepas pengawasan narapidana kembali melakukan pelanggaran atau melakukan tindakan melawan hukum,” tandasnya.

Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) sebelumnya mempercepat pembebasan 30 ribu lebih napi dewasa dan anak yang sedang menjalani pidana di lapas ataupun rutan. Kebijakan itu diputuskan oleh Kemenkumham demi mencegah penyebaran virus corona (Covid-19), yang sedang mewabah di Indonesia dan berbagai negara di belahan dunia.

Adapun percepatan pembebasan tersebut didasarkan pada peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 10 Tahun 2020 tentang Syarat Pemberian Asimilasi dan Hak Integrasi bagi Narapidana dan Anak, dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19.

Ilustrasi

Kemudian ditambah Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI No.M.HH-19 PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak melalui asimilasi dan integrasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Covid-19. Serta surat edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS-497.PK.01.04.04 Tahun 2020 tentang hal yang sama.

Berdasarkan sistem database pemasyarakatan 29 Maret 2020, narapidana atau anak yang diusulkan asimilasi dan hak integrasi terbanyak berasal dari Provinsi Sumatera Utara, dengan 4.730 orang. Selanjutnya disusul provinsi Jawa Timur sebanyak 4.347, serta provinsi Jawa Barat dengan jumlah 4.014 orang.

Tak lama kebijakan pembebasan napi itu berjalan, aksi kerusuhan justru terjadi di dalam lapas pada Sabtu 11 April pukul 15.00 Wita. Awalnya, para narapidana melakukan tindakan anarkis dengan melakukan pembakaran dalam lapas.

Aparat kepolisian beserta petugas lapas yang berusaha menenangkan malah disambut dengan lemparan batu, botol bahkan senjata tajam membuat mereka sulit mendekat. Disinyalir, para napi minta dibebaskan karena takut tertular virus corona.

Tindakan persuasif yang dilakukan tidak membuahkan hasil sehingga aparat gabungan sekira 2000 personil yang diturunkan terdiri dari Brimob, Polda Sulut, Polresta Manado, Unsur TNI dan Instansi terkait mengambil tindakan tegas dengan berusaha masuk kedalam lapas.

Aparat gabungan tersebut merangsek masuk sekira pukul 18.30, dan sampai pukul 19.30, sekira satu jam, kerusahan dalam lapas berhasil ditangani. Sebanyak 20 orang narapidana diamankan pascakerusuhan yang terjadi di Lapas Tuminting Kelas II Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu 11 April 2020 kemarin. Mereka yang diamankan sebagian besar tahanan kasus narkoba.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini