nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sekjen MUI: Mudik saat Wabah Corona Hukumnya Haram!

Rizka Diputra, Jurnalis · Jum'at 03 April 2020 10:53 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 04 03 337 2193439 sekjen-mui-mudik-saat-wabah-corona-hukumnya-haram-wjBX6OAouk.JPG Sekjen MUI, Anwar Abbas (Foto: Ist)

JAKARTA - Penyebaran wabah virus corona (Covid-19) di Indonesia semakin hari kian memprihatinkan. Jumlah korban meninggal dunia akibat bencana nonalam ini sudah mencapai ratusan orang, dari ribuan yang terjangkit. Dalam perspektif Islam, wabah penyakit diturunkan Allah SWT untuk menguji sekaligus mengingatkan hamba-Nya.

Fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini ialah, masyarakat ramai-ramai mudik ke kampung halaman demi menghindari virus asal negeri Tiongkok itu. Lalu, bagaimana hukumnya bagi mereka yang mudik ke kampung halaman di tengah wabah corona saat ini?

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengatakan, salah satu tujuan dari diturunkannya agama Islam oleh Allah SWT adalah untuk menjaga dan melindungi jiwa manusia.

Oleh karenanya, jika manusia melakukan suatu tindakan, maka tindakan itu tidak boleh mencelakakan diri kita sendiri dan atau orang lain. Di dalam kaidah fiqihnya, dikatakan 'La dharara wala dhirara'.

Mudik

Anwar menjelaskan, jika seseorang mudik dari daerah yang tidak ada wabah ke daerah yang tidak ada wabah maka hal itu tidak jadi masalah dan hukumnya ialah boleh-boleh saja (mubah), karena tidak ada mudharat yang akan muncul yang akan muncul di situ.

"Tapi kalau dia mudik dari daerah pandemi wabah ke daerah lain maka itu tidak boleh karena disyakki dan atau diduga keras dia akan bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain. Apalagi virusnya menular dan sangat berbahaya, lalu tetap melakukannya berarti yang bersangkutan telah melakukan sesuatu yang haram," jelas Anwar, kepada Okezone, Jumat (3/4/2020).

Sehingga lanjut Anwar, bila pemerintah melarang warganya untuk pulang mudik di saat ada pendemi wabah corona hal itu wajar dan boleh-boleh saja bahkan hukumnya adalah wajib karena kalau itu tidak dilarang maka bencana dan malapetaka yang lebih besar tentu bisa terjadi.

Infografis COVID-19

"Dan tindakan pemerintah membuat kebijakan seperti itu sudah sesuai dan sejalan dengan firman Allah SWT yang artinya janganlah kamu menjatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan. Dan juga sangat sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang melarang orang untuk masuk ke daerah yang sedang dilanda wabah dan atau keluar dari daerah tersebut," paparnya.

Anwar pun mengutip salah satu hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, sesungguhnya beliau bersabda yang artinya:

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada,maka jangan tinggalkan tempat itu," (HR. Al-Bukhari).

Pada hadits berikutnya, Anwar mengutip kisah Sayyidina Umar dan salah seorang sahabat Nabi, bernama Abdurrahman bin Auf yang mengabarkan berita wabah yang melanda negeri. Hadits itu berbunyi yang artinya:

"Sesungguhnya Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Al-Bukhari).

Mudik

Sehingga lanjut Anwar, masyarakat sebaiknya mematuhi imbauan pemerintah di tengah wabah corona yang semakin meluas.

"Jika manusia tidak memerhatikan ketentuan yang ditetapkan dalam agama, jelas akan sangat berbahaya karena berpotensi mengancam jiwa dari yang bersangkutan dan juga jiwa dari orang lain," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini