Ketum PP Muhammadiyah: Jangan Tolak Jenazah Korban Virus Corona

Kuntadi, Koran SI · Kamis 02 April 2020 14:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 04 02 337 2192991 ketum-pp-muhammadiyah-jangan-tolak-jenazah-korban-virus-corona-ICkTEUnLwk.jpg Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir (Foto: Okezone.com/Arif Julianto)

YOGYAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengaku prihatin dengan adanya sebagian masyarakat yang menolak pemakaman jenazah pasien korban virus corona (Covid-19).

Terlebih jika sampai ada permintaan untuk makam dibongkar. Semestinya kata dia, masyarakat bisa menghormati jenazah dan menguburkan secara lebih layak.

“Sangat disayangkan ada penolakan jenazah untuk dimakamkan,” terang Haedar Nashir dalam keterangan persnya, Kamis (2/4/2020).

Haedar menjelaskan, pasien yang meninggal akibat Covid-19 adalah saudara sesama anak bangsa. Sudah semestinya diperlakukan dengan penghormatan yang baik.

Sesuai Tarjih Muhammadiyah, pasien Covid-19 yang meninggal dunia yang sebelumnya telah berikhtiar dengan penuh keimanan untuk mencegah dan atau mengobatinya, maka mendapat pahala seperti pahala orang mati syahid.

“Kalau sudah ada ikhtiar dengan penuh keimanan, maka akan mendapatkan pahala seperti orang mati syahid,” jelasnya.

Haedar mengingatkan masyarakat agar bisa menerima penguburan pasien korban corona yang dilakukan dengan protokol yang ada. Jangan sampai ada upaya untuk membongkar makam dengan alasan untuk dipindahkan.

Masyarakat, kata dia, juga harus bisa menyikapi dengan baik terhadap pasien yang terkena positif Covid-19. Jika dikarantina di satu lokasi atau menempuh karantina sendiri di kediamannya Haedar mengimbau agar tidak ditolak. Aparat lanjutnya, juga harus bijaksana dan ikut memberi edukasi dan pehamaman kepada warga. Jangan justru malah ikut-ikutan menolak.

“Semua harus berkorban dan menunjukkan keluhuran sikap kemanusiaan dan kebersamaan,” terangnya.

Untuk itulah, dia melihat peran tokoh dan pemuka agama setempat sangat penting. Mereka harus mampu memberikan pemahaman yang benar, karena masyarakat memiliki jiwa sosial, gotong royong, dan religius terhadap sesama. Sehingga ketika ada korban Covid-19 yang meninggal dan keluarganya semestinya harus diberi empati dan tentunya bantuan.

“Sikap berlebihan justru tidak menunjukkan keluhuran budi dan solidaritas sosial yang selama ini jadi kebanggaan bangsa Indonesia,” katanya menandaskan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini