Masyarakat Masih Nekat Mudik di Tengah Corona, Ini Kata Sosiolog

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 31 Maret 2020 12:40 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 31 337 2191710 masyarakat-masih-nekat-mudik-di-tengah-corona-ini-kata-sosiolog-pNVdb9msma.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

MALANG - Pengamat Sosial dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rachmad Dwi Susilo mengatakan, ada dua faktor yang membuat masyarakat nekat mudik, di tengah merebaknya virus corona (Covid-19). 

Pemerintah sudah berkali-kali menegaskan, tidak ada cara lain untuk memutus rantai virus corona, selain melakukan physical distancing atau jaga jarak, menjaga kebersihan dan sering mencuci tangan dengan sabun. 

Pemerintah pun lantas telah melarang masyarakat untuk mudik, guna menghindari kemungkinan makin tersebarnya vrus corona. Namun tetap saja, masih banyak masyarakat yang keukeuh untukt tetap mudik. 

Rachmad menilai, faktor pertama yang membuat mudik tetap dilakukan karena telah menjadi tradisi.

Ilustrasi. (Foto: Okezone.com)

"Tradisi migrasi (mudik) ini ada dua faktor, pertama faktor budaya tradisi merantau, pulang pada waktu lebaran itu turun temurun dan melekat. Tidak bisa diubah begitu saja perilaku itu," jelas pria Ketua Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Malang Raya itu.

Baca juga: Imbas Corona, Komisi III DPR-Kapolri Rapat secara Virtual

Faktor kedua menurutnya yakni ekonomi. Perilaku masyarakat yang ingin memperbaiki kesejahteraan dengan mencari pekerjaan ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain sebagainya. 

"Faktor ekonomi untuk memperbaiki ekonomi mereka ke kota besar, seperti Jakarta. Ini menjadi persoalan tidak bisa mereka dicegah untuk melakukan migrasi (mudik)," ujarnya.

Ia mengaku sangsi bila 100 persen masyarakat Indonesia akan mudah dicegah untuk mudik, lantaran Indonesia dipengaruhi beragam agama, adat istiadat hingga ekonomi. 

"Kalau kita berharap 100 persen mempengaruhi masyarakat kayaknya sulit sekali, tapi itu pilihan yang terbaik bagi pemerintah untuk tidak lelah menyosialisasikan, kalau mudik itu sebenarnya dia tidak mencintai keluarga besarnya," ucapnya.

Solusi dari semua itu adlaah kebijaksanaan dari pemimpin dan tokoh masyarakat yang bisa menyuarakan tentang pentingnya menunda mudik demi memutus rantai penyebaran virus.

"Kalau saya begini, terpenting ini satu leadership, tokoh-tokoh kepemimpinan, tidak mesti di pemerintah pusat, provinsi, kota, hingga kabupaten, dan pemimpin di komunitas harus satu suara," ucapnya.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini