Pandemi Corona, Physical Distance Juga Harus Dilakukan di Lapas

Puteranegara Batubara, Okezone · Kamis 26 Maret 2020 21:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 26 337 2189571 pandemi-corona-physical-distance-juga-harus-dilakukan-di-lapas-qpuZpHPWfg.jpg ilustrasi

JAKARTA - Virus corona atau Covid-19 sudah menyebar luas ke beberapa negara, bahkan di Indonesia. WHO pun telah menetapkan virus itu sebagai pandemi.

Menyambut hal itu, Pemerintah Indonesia pun mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan Physical Distance atau jaga jarak fisik untuk menekan angka penyebaran corona di sosial masyarakat.

Tak hanya di sosial masyarakat, Physical Distance diimbau sebaiknya juga diterapkan kepada para warga binaan dibalik Rumah Tahanan (Rutan) atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas).

Mengingat, jeruji besi di Indonesia saat ini banyak yang over kapasitas atau melebihi cakupan. Oleh sebab itu, dikhawatirkan Physical Distance tidak diterapkan di lapas.

"Kebijakan sosial distance tidak akan berjalan baik, karena didalam lapas bila diberi jarak satu atau dua meter itu tempatnya juga tak akan cukup, mau ditaruh di mana," kata Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah saat dikonfirmasi, Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Baca Juga : Pandemi Virus Corona, Gugus Tugas Cari Relawan untuk Jadi Pejuang Kemanusiaan 

Oleh sebab itu, Ia mengimbau kepada anggota DPR untuk segera bertindak cepat apabila pandemi corona telah berakhir. Menurutnya, pembenahan bisa dilakukan dengan mengesahkan Rancangan Undang-undang (RUU) Pemasyarakatan menjadi Undang-undang (UU).

"Mau tidak mau RUU pemasyarakatan harus segera disahkan, dan justru ini harus menjadi prioritas dan mendesak. Karena dengan adanya UU itu nantinya akan mencabut PP No.99," ujar dia.

Trubus menilai, masalah RUU Pemasyarakatan ini sudah mendesak semua untuk segera di sahkan. Dan hal ini bukan hanya masalah over kapasitas, namun masalah lain seperti Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional kekurangan.

"Dan rasio antara yang diawasi dan yang mengawasi tidak sesuai, makanya undang-undang itu sangat diperlukan," ucap ia.

Dengan mewabahnya virus corona, lanjut Trubus, hal itu diharapkan bisa menjadi pelajaran untuk menangani lapas yang ada di Indonesia. "Karena penghentian kunjungan keluarga napi belum efektif, bukan tidak mungkin Corona bisa saja masuk kedalam lapas," tutur dia.

Menurut Trubus di Rutan Cipinang yang seharusnya hanya dihuni 1000 orang, saat ini mencapai 4.000 orang. Akibatnya, instruksi pemerintah untuk tak membuat kerumunan pastinya tak bisa dilakukan karena sesaknya orang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini