Karutan Boyolali Dicecar KPK Terkait Izin Berobat Napi saat Menjabat di Lapas Sukamiskin

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 11 Maret 2020 22:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 11 337 2181926 karutan-boyolali-dicecar-kpk-terkait-izin-berobat-napi-saat-menjabat-di-lapas-sukamiskin-KNmvEoYt3I.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung memeriksa Kepala Rumah Tahanan (Karutan) Boyolali, Agus Imam Taufik. Agus Imam diperiksa dalam kapasitasnya sebagai saksi ketika ia menjabat Kasi Perawatan Narapidana di Lapas Sukamiskin.

KPK mengorek keterangan Agus Imam soal prosedur pemberian izin berobat keluar Lapas bagi narapidana. Sebab, KPK menemukan adanya dugaan penyalahgunaan izin keluar Lapas terhadap narapidana Tubagus Chaeri Wardana (Wawan).

"Penyidik mendalami keterangan saksi terkait dengan prosedur pemberian izin berobat keluar lapas sukamiskin saat dijabat Deddy Handoko. Dimana saat itu saksi menjabat selaku Kepala Seksi Perawatan yang berwenang mengurus perizinan Narapidana yang akan berobat keluar Lapas Sukamiskin," kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Rabu (11/3/2020).

Agus Imam diperiksa untuk melengkapi berkas penyidikan tersangka Tubagus Chaeri Wardana (Wawan). Wawan merupakan tersangka kasus dugaan suap jual-beli fasilitas di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

Selain Wawan, KPK juga menetapkan empat tersangka baru dalam pengembangan kasus dugaan suap jual-beli fasilitas di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Empat tersangka itu yakni, Wahid Husen dan Deddy Handoko yang merupakan mantan Kalapas Sukamiskin, Direktur Utama PT Glori Karsa Abadi Rahadian Azhar, dan Almarhum Fuad Amin.

Baca Juga: Jennifer Dunn hingga Catherine Wilson Bakal Bersaksi di Sidang Wawan

KPK menghentikan proses penyidikan terhadap Almarhum Fuad Amin karena telah meninggal dunia. KPK sudah meningkatkan perkara dari penyelidikan ke penyidikan terhadap Fuad Amin sebelum meninggal dunia.

Dalam proses penyidikan ini, KPK menduga bahwa telah terjadi pemberian beberapa mobil mewah dari narapidana kepada Kalapas Sukamiskin ketika itu. Pemberian dari narapidana kepada Kalapas Sukamiskin itu diduga kuat agar warga binaan mendapatkan fasilitas yang mewah dan bebas keluar masuk dari balik jeruji besi.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini