Share

BMKG Terjunkan Tim Lakukan Pemetaan Dampak Gempa Sukabumi

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 11 Maret 2020 09:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 11 337 2181428 bmkg-terjunkan-tim-lakukan-pemetaan-dampak-gempa-sukabumi-myeYKgfhDn.jpeg Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono. (Foto: Dok Okezone/Muhamad Rizky)

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerjunkan tim untuk melakukan survei dan pemetaan dampak musibah gempa berkekuatan magnitudo 5,1 di Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa 10 Maret 2020.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono mengatakan survei lapangan yang akan dilakukan BMKG mencakup survei makroseismik guna memetakan sebaran dampak kerusakan bangunan (berat, sedang, ringan).

Baca juga: Dampak Gempa Sukabumi, 173 Warga Mengungsi 

"Data ini penting untuk validasi peta shakemap yang dipublikasikan BMKG. Selain itu BMKG juga akan memasang beberapa portable digital seismograf untuk memonitor aktivitas gempa susulan," ujar Rahmat kepada Okezone, Rabu (11/3/2020).

Ia menerangkan, satu hal lagi yang penting dilakukan oleh Tim Survei BMKG adalah sosialisasi kepada masyarakat dengan memberikan penjelasan seputar mitigasi gempa bumi, cara selamat saat terjadi gempa, serta menenangkan masyarakat.

"Gempa Sukabumi ini termasuk tipe II, di mana gempa diawali dengan gempa pendahuluan, selanjutnya terjadi gempa utama, dan kemudian diikuti gempa susulan," jelas dia.

Rahmat menjelaskan, sebelum terjadi gempa utama (main shock) dengan berkekuatan M5,1 pada pukul 17.18 WIB, didahului aktivitas gempa pendahuluan (foreshock) bermagnitudo 3,1 pada pukul 17.09 WIB.

Setelah terjadi gempa utama, selanjutnya diikuti gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan magnitudo 2,4 pada pukul 18.06 WIB.

"Ada beberapa pembelajaran yang dapat diambil dari kasus gempa Sukabumi ini. Pertama, di wilayah Indonesia ternyata masih banyak sebaran sesar aktif yang belum teridentifikasi dan terpetakan strukturnya dengan baik. Identifikasi dan pemetaan sesar aktif ini sangat penting untuk kajian mitigasi dan perencanaan wilayah," ujarnya.

Baca juga: Tiga Orang Terluka Akibat Gempa Sukabumi 

Rahmat menilai masih banyaknya sebaran sesar aktif harus diantisipasi dengan mewujudkan bangunan tahan gempa. Ini penting karena banyaknya korban sebenarnya bukan disebabkan gempa, tetapi timbul korban akibat bangunan roboh dan menimpa penghuninya.

"Membuat bangunan rumah tembok asal bangun tanpa besi tulangan atau dengan besi tulangan dengan kualitas yang tidak standar justru akan menjadikan penghuninya sebagai korban jika terjadi gempa," tandasnya.

(han)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini