nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Mantan Napi Teroris Terpapar Paham ISIS : Wajib Menolak NKRI

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Sabtu 07 Maret 2020 13:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 03 07 337 2179678 cerita-mantan-napi-teroris-terpapar-paham-isis-wajib-menolak-nkri-ejnS2ilYGQ.jpg Mantan Narapidana Teroris (Napiter) Haris Amir Falah (foto: Okezone/Arie DS)

JAKARTA - Mantan narapidana terorisme (napiter), Haris Amir Falah menceritakan awal mula terpapar paham radikalisme yang bersumber dari ISIS. Penulis buku hijrah dari radikal ke moderat tersebut mengaku sudah mulai terpapar paham radikalisme sejak 1983.

Berdasarkan pengalaman Haris, sejak awal didoktrin untuk menjadi teroris, ia sudah diwajibkan untuk menolak ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal itu diwajibkan untuk menjadi seorang yang radikal.

Baca Juga: Eks Kepala BNPT: Virus ISIS Lebih Mengerikan Ketimbang Korona 

"Pengalaman saya bahwa doktrin anti atau menolak NKRI sudah menjadi paket yang wajib untuk menjadi seorang yang radikalis. Karena akidah adalah manhaz yang dulu saya sudah terpapar dari tahun 83," beber Haris saat menghadiri diskusi Polemik MNCTrijaya bertajuk 'WNI ISIS Dipulangkan atau Dilupakan?', di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2020).

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Menurut Haris, ketika ia didoktrin untuk menjadi seorang yang radikal saat itu, sangat ekstrim. Orang-orang yang merupakan bagian dari ISIS dan mengajaknya untuk bergabung, menyatakan bahwa NKRI adalah kafir.

"Dulu ekstrem sekali doktrinnya. Pertama, NKRI adalah negara kafir dan semua warganya kafir. Kemudian belakangan agak halus tapi masih menolak NKRI. Negara NKRI kafir tapi tidak mengkafirkan semua penduduknya. intinya menolak negara," ungkapnya.

Mantan anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) ini menggambarkan kondisi saat bergabung dengan jaringan teroris. Dimana, dulu ia harus berhijrah dengan melepaskan identutasnya sebagai Warga Negara Indonesia (WNI).

"Konsekuensinya harus hijrah dan lepas dari NKRI karena dianggap tidak berhukum dengan hukum Allah dan itu menjadi kafir," katanya.

Oleh karenanya, saat ini Haris mendukung keputusan pemerintah dengan tidak memulangkan bekas WNI mantan kombatan ISIS ke Indonesia. Sebab, kata dia, para mantan kombatan ISIS itu sudah melepaskan kewarganegaraannya sejak bergabung dengan ISIS.

Baca Juga: Istana Pastikan Ratusan ISIS Eks WNI Masih di Suriah 

"Saya sebenarnya hampir tidak percaya kalau ada orang yang berangkat (ke Suriah) sebelumnya, belum dibaiat. Mereka kalau berangkat itu harus dibaiat untuk setia kepada ISIS, dan harus melepaskan kesetiaan kepada NKRI. itu sudah menjadi doktrin yang pernah saya alami," katanya.

"Makanya dari awal saya memang tidak setuju dengan ISIS, sejak awal ya, bukan belakangan saya menarik diri dari ISIS. Radikalisme itu bukan ISIS saja. Ada yang lain yang juga radikalisme juga," sambung dia.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini