nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPK Kembali Panggil Bos PT Borneo Lumbung Energi dan Metal

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Senin 02 Maret 2020 11:09 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 03 02 337 2176725 kpk-kembali-panggil-bos-pt-borneo-lumbung-energi-dan-metal-HRvctNBSwq.jpg Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri (Okezone.com/Arie)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali mengagendakan pemeriksaan terhadap pemilik PT Borneo Lumbung Energi dan Metal Tbk (BORN), Samin Tan, hari ini.

Ia akan diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka kasus dugaan suap terminasi Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) PT Asmin Koalindo Tuhup (PT AKT) di Kementerian ESDM.

"Yang bersangkutan dipanggil untuk diperiksa dalam kapasitasnya sebagai tersangka," kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi, Senin (2/3/2020).

Samin Tan sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak medio Februari 2019. Sebelumnya, dia pernah diperiksa oleh KPK pada, 7 Oktober 2019. Namun, hingga kini belum ditahan.

 KPK

Pantauan Okezone, hingga pukul 10.45 WIB, Samir Tan belum terlihat datang ke Gedung KPK. Belum diketahui apa yang akan digali penyidik KPK terhadap Samin Tan dalam pemeriksaan, hari ini.

Baca juga: KPK Cekal Bos PT Borneo Lumbung Energi Berpergian ke Luar Negeri

Sebagaimana diketahui, kasus suap pengurusan terminasi ini merupakan pengembangan dari perkara suap PLTU Riau-1 yang menjerat Idrus Marham Cs.

Dalam perkara ini, Samin Tan diduga menyuap mantan anggota DPR RI dari Golkar Eni Maulani Saragih. Tujuan pemberian suap itu agar Eni membantu proses pengurusan terminasi kontrak PKP2B PT AKT di Kementerian ESDM. PT AKT telah diakuisisi PT BORN.

Eni menyanggupi permintaan Samin Tan. Eni yang saat itu menjadi anggota Panja Minerba di Komisi VII DPR menggunakan forum rapat dengar pendapat untuk memengaruhi pihak Kementerian ESDM.

Dalam proses penyelesaian, Eni diduga meminta sejumlah uang kepada Samin Tan untuk keperluan pilkada suaminya, Muhammad Al Khadziq, di Kabupaten Temanggung. Pemberian itu terjadi dalam dua tahap melalui staf Samin Tan, dan tenaga ahli Eni Maulani Saragih.

Pemberian pertama sebesar Rp4 miliar dilakukan pada 1 Juni 2018, dan pemberian kedua terjadi pada 22 Juni 2018 sebanyak Rp1 miliar. Total suap yang diterima Eni dari Samin Tan sebanyak Rp5 miliar.

Atas perbuatannya, Samin Tan disangkakan melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 64 Ayat (1) KUHP.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini