DPR Minta Pemerintah Antisipasi Virus Korona Masuk ke Indonesia

Muhamad Rizky, Okezone · Minggu 01 Maret 2020 12:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 01 337 2176418 dpr-minta-pemerintah-antisipasi-virus-korona-masuk-ke-indonesia-XDRUMpOyqN.jpg Foto Istimewa

JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR RI Fraksi PKS, Buchori Yusuf meminta pemerintah untuk lebih transparan terkait informasi Covid-19 atau virus corona. Ia tak yakin pemerintah talah memberikan data yang lengkap terkait peredaran virus itu.

Hal tersebut diungkap Buchori saat menghadiri diskusi Cross Check bertajuk 'Corona Kita Imun atau Melamun'di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

"Kalau masih nol, pemerintah harus bisa tanggung jawab dengan data dan sosialisasi untuk meyakinkan," kata Buchori, Minggu (1/3/2020).

 Baca juga: Satu Pasien Sembuh COVID-19 dari Kapal Diamonds Princess Ikut Pulang ke Indonesia

Menurutnya, sejauh ini pemerintah belum cukup maksimal dalam memberikan informasi, sebab setiap informasi yang disampaikan tidak mmenggunakan data melainkan hanya sebatas wacana. "Kalau cuma pejabat, wamenkes, ini hanya wacana publik," ungkapnya.

Buchori mempertanyakan, kasus meninggalnya seorang pria (37) suspect corona yang pada Minggu 23 Februari 2020 di Rumah Sakit Kariadi, Semarang. Dimana jenazah pria tersebut dibungkus dengan plastik.

"Waktu kejadian yang di Semarang rada unik meskipun diberikan penjelasan meninggalnya bukan karena corona, tapi cara memperlakukan sepert orang yang meninggal karena corona," ungkapnya.

 Baca juga: DPR Minta Sosialisasi Pencegahan Virus Korona Dilakukan dari Tingkat Desa

"Ini merupakan tanda tanya, apakah tidak ada riset lebih dalam, teliti, sehingga apa yang terjadi di masyarakat," tambahnya.

Untuk itu, Buchori mengingatkan agar pemerintah benar-benar serius mempersiapkan antisipasi dan melaporkan kepada publik secara jelas terkait penanganan virus tersebut.

"Jangan sampai sudah mewabah baru bergerak, saya sendiri berharap virus ini tidak ada di negara kita. Saya kira kami ingin pemerintah acara lebih cermat dan hati-hati serta transparan kepada publik," tukasnya.

Sebelumnya, Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) RSUP dr Kariadi, dr Fathur Nur Kholis, menjelaskan pasien berjenis kelamin laki-laki yang meninggal dunia dipastikan bukan akibat korona. Hasil pemeriksaan medis pasien tersebut akibat gagal napas.

“Ternyata hasil pemeriksaan yang kita lakukan di Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) yang kita khawatirkan jangan-jangan ini adalah penyebabnya karena virus korona itu, tidak terbukti,” kata Fathur, pada Rabu 26 Februari 2020.

“Pasien itu kemarin meninggal, disampaikan karena infeksi di paru-paru dan saluran pernapasan yang bersifat berat. Pasien itu meninggal karena paru-parunya mengalami kerusakan akibat sesuatu. Sesuatu itu apa? Yang jelas sesuatu kemarin bukan virus korona, karena hasil dari pemeriksaan yang kita kirimkan ke Jakarta mengatakan hasilnya negatif,” terangnya.

Dia menjelaskan, penyebab infeksi di paru-paru cukup banyak bisa berupa virus, bakterial, jamur, atau makhluk hidup lain. Penyakit yang diderita pasien itu disebut Bronkopneumonia sehingga terjadi peradangan di paru-paru.

Adapun pembungkus pelastik yang duganakan terhadap jenazah itu dilakukan agar virusnya tidak menyebar kepada petugas medik.

"Jadi, mayat itu dibungkusnya dengan plastik, kalau dengan kain masih ada pori-pori kecil, karena ukuran virus itu sangat kecil, kan kalau dengan pasltik jadi tidak menyebar di udara," terangnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini