nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dewan Pakar Kesehatan Masyarakat Ungkap Penyebab Indonesia Belum Kena Virus Korona

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Sabtu 29 Februari 2020 13:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 29 337 2176064 dewan-pakar-kesehatan-masyarakat-ungkap-penyebab-indonesia-belum-kena-virus-korona-iE6g5NzeFn.JPG Diskusi Polemik MNC Trijaya tentang virus korona (Foto: Okezone.com/Harits Tryan Akhmad)

JAKARTA - Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Hermawan Saputra menyebut Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang belum terkena virus korona.

"Kita harus akui bahwa di ASEAN, mungkin tinggal Indonesia saja yang belum kena (virus korona/Covid-19)," ujar Hermawan dalam diskusi MNC Trijaya bertajuk 'Mengukur Efek Korona: Siapkah Kita?' di Ibis Hotel, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (29/2/2020).

Berdasarkan data yang dimilikinya, negara tetangga Indonesia seperti Malaysia sampai tanggal 27 Februari kemarin sudah ada 22 kasus soal virus korona. Kemudian di Singapura sampai 96 kasus, lalu di Thailand 30 kasus, Australia 22 kasus dan juga Vietnam.

Menurut Hermawan, teori awal mengapa Indonesia belum terkena dampak virus korona karena masyarakat Indonesia yang termasuk dalam ras Melayu, sehingga dianggap mempunyai reseptor berbeda dengan warga di negara-negara yang telah terpapar virus tersebut.

"Bahkan lompat ke benua (lain) ketika tak ada tanda-tanda tiba-tiba ini terjadi di Iran dan Italia. Nah, ini teori awalnya karena perbedaan ras," ujarnya.

Hermawan mengatakan imunitas atau ketahanan daya tahan tubuh serta kondisi lingkungan menjadi faktor bisa atau tidaknya seseorang tertular virus korona ini.

Ilustrasi

"Betul, ini saling berdampingan, imunitas dan kondisi lingkungan. Artinya setiap kasus itu sangat spesifik," ucap dia.

Dia melanjutkan, Indonesia mempunyai tenaga kesehatan terkait pengendalian penyakit menular di bawah Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Kita cukup luar biasa punya tenaga, kita punya pusat pengendalian menular dan pakar di kabupaten-kota juga punya. Kita juga punya tenaga survaillance tersebar di seluruh Indonesia. Artinya, human resource kita sebenarnya cukup melakukan early detection, melakukan kajian-kajian," tutupnya.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini