nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ketua KPU: Saya Enggak Kenal Harun Masiku

Muhamad Rizky, Okezone · Jum'at 28 Februari 2020 14:26 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 28 337 2175543 diperiksa-kpk-ketua-kpu-ditanya-soal-hubungannya-dengan-harun-masiku-AxWAxUoaoY.JPG Ketua KPU RI, Arief Budiman (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Arief Budiman rampung diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Arief diperiksa sebagai saksi terkait kasus dugaan suap terkait penetapan anggota DPR pergantian antarwaktu (PAW) yang menyeret mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan (WSE).

Arief mengaku, dalam pemeriksaan itu dirinya dicecar oleh penyidik dengan sejumlah pertanyaan terkait hubungannya dengan tersangka Harun Masiku.

"Terkait apakah saya punya hubungan. Jadi, (ditanya) hubungan antara saya, Pak Wahyu dan Harun Masiku," kata Arief kepada wartawan di pelataran Gedung KPK, Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Arief kemudian menjelaskan kepada penyidik bahwa dirinya tidak mengenal Harun Masiku. "Ditanyanya ya soal hubungan saya dengan Harun Masiku seperti apa. Ya, saya jelaskan ya enggak kenal siapa Harun Masiku," terangnya.

Total kata Arief, ada sekira 10 pertanyaan yang dilayangkan penyidik kepadanya. Namun, dari beberapa pertanyaan yang diajukan, sama dengan pertanyaan pada saat ia diperiksa sebelumnya.

"Hari ini ada 10 pertanyaan, tapi beberapa pertanyaan sama dengan pemeriksaan sebelumnya," tandasnya.

Pada pemeriksaan pertama pada 28 Januari 2020 lalu, Arief mengaku dicecar 22 pertanyaan oleh penyidik, salah satunya soal ada tidaknya aliran uang ke kantong pribadinya. Kepada penyidik, ia menegaskan tidak ada uang yang diterima terkait proses PAW anggota DPR.

Saat itu, Arief diperiksa KPK sekira tujuh jam. Selain soal aliran uang, Arief juga mengaku diselisik soal kedekatannya dengan Wahyu Setiawan. Utamanya, dalam merespons surat-surat dari PDIP yang menginginkan Harun Masiku terpilih sebagai anggota DPR PAW.

Kasus ini bermula ketika PDIP memutuskan melimpahkan suara Nazarudin Kiemas yang telah meninggal dunia ke Harun Masiku. Almarhum Nazarudin Kiemas merupakan peraih suara terbanyak di Dapil Sumatera Selatan 1 dan mendapatkan kursi di DPR.

Namun, Nazarudin meninggal sebelum menjabat sebagai anggota DPR. KPU memutuskan bahwa caleg asal PDIP, Riezky Aprilia sebagai pengganti Nazarudin. Sebab, Riezky merupakan peraih suara tertinggi kedua setelah Nazarudin di Dapil Sumsel 1

Keputusan KPU berbeda dengan PDIP yang menginginkan Harun sebagai pengganti Nazarudin. Padahal, suara Harun terpaut jauh di bawah Riezky Aprilia. Proses itu kemudian berujung rasuah yang menyeret mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan.

Ditekankan Arief, KPU telah sesuai aturan dalam menolak permohonan PAW PDIP yang mengajukan Harun Masiku sebagai pengganti Nazarudin Kiemas. Bahkan, kata Arief, KPU juga sudah secara tegas menolak permohonan PDIP lewat surat.

"Pokoknya, KPU sudah mengambil keputusan sebagaimana yang kita tuangkan dalam surat yang kita kirimkan sebagai jawaban," tegasnya.

Sejauh ini, KPK telah menetapkan empat orang sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait proses PAW di DPR RI. Empat tersangka tersebut yakni, mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan (WSE), mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF) caleg PDIP Harun Masiku, dan pihak swasta, Saeful (SAE). Wahyu dan Agustiani ditetapkan sebagai pihak penerima suap. Sedangkan Harun dan Saeful merupakan pihak pemberi suap.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini