nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menkes Sebut 9 WNI di Jepang Dirawat karena Virus Korona

Fahreza Rizky, Okezone · Senin 24 Februari 2020 14:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 24 337 2173261 menkes-sebut-9-wni-di-jepang-dirawat-karena-virus-korona-2Jv1cQIcvy.JPG Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Terawan Agus Putranto menyebut sembilan orang warga negara Indonesia (WNI) di Jepang terjangkit virus korona atau Covid-19. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya di mana empat orang WNI positif virus tersebut di kapal pesiar Diamond Princess.

"Saya terangkan nih, WNI yang kena kan juga dirawat oleh pemerintah Jepang yang sembilan orang itu," ucap Terawan usai bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (24/2/2020).

Terawan menerangkan, pemerintah Indonesia masih bernegosiasi dengan Jepang untuk mengevakuasi puluhan WNI di kapal Diamond Princess yang saat ini tengah bersandar di Yokohama, Jepang.

Baca juga: Pemerintah Masih Negosiasi dengan Jepang untuk Evakuasi 74 WNI di Kapal Diamond Princess

"Saat ini terus bernegosiasi dengan pemerintah Jepang mengenai upaya, teknik, cara yang paling baik, untuk bisa mengeluarkan mereka. Jadi kita nego terus, nego tapi caranya jangan semaunya sendiri, kalau gitu nanti bisa membentuk episentrum baru. Ndak boleh," tuturnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menerima informasi adanya empat orang WNI yang positif terjangkit virus korona di Kapal Pesiar Diamond Princess. Kapal tersebut kini sedang bersandar di Yokohama, Jepang.

Kapal Pesiar Diamond Princess

Kapal Diamond Princess (Foto: Business Inside)

Jokowi menuturkan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang maupun Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terus memantau kondisi WNI yang ada di sana, baik yang sudah terjangkit virus korona ataupun tidak.

Baca juga: Istana Tegaskan Evakuasi WNI di Kapal Diamond Princess Segera Dilakukan

"Selalu memantau. Tetapi kita juga ingat yang ada di kapal juga masih kurang lebih 70-an. Ini yang terus dikomunikasikan oleh Kemenlu, baik dengan perusahaan pemilik kapal maupun juga pemerintah Jepang," tuturnya beberapa waktu lalu.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini