Wartawan Korban Pengeroyokan Jadi Tersangka, Amnesty International dan Kontras Menyesalkan

Muhamad Rizky, Okezone · Minggu 23 Februari 2020 14:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 23 337 2172867 wartawan-korban-pengeroyokan-jadi-tersangka-amnesty-international-dan-kontras-menyesalkan-hF7jpYavm8.jpg Amnesty International (Okezone)

JAKARTA - Amnesty International Indonesia dan Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengeluarkan sikap terkait penetapan tersangka terhadap jurnalis LKBN Antara di Aceh Barat, Teuku Dedi Iskandar.

Dedi ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pengeroyokan oleh penyidik Polres Aceh Barat, padahal Dedi merupakan korban daripada pengeroyokan itu sendiri. Dedi dikeroyok oleh lebih dari dua orang di sebuah warung kopi di Meulaboh, Aceh Barat, pada Senin 20 Januari 2020, hingga harus diopname di rumah sakit.

“Kami menyesalkan langkah kepolisian yang menetapkan Dedi sebagai tersangka. Dedi adalah korban kekerasan karena dialah yang dikeroyok oleh lebih dari dua orang. Namun, aparat kepolisian setempat justru menetapkan dia sebagai tersangka penganiayaan terhadap orang yang mengeroyoknya," kata Direktur Eksekutif Amnesty International, Usman Hamid, Minggu (23/2/2020).

Usman menegaskan, kekerasan terhadap jurnalis yang sedang bertugas tidak bisa dibenarkan. Kerja para jurnalis dilindungi oleh hukum internasional HAM termasuk hukum nasional seperti UU Nomor 40 tahun 1999 tentang pers, baik dalam mencari, memperoleh dan menyebarluaskan informasi.

"Pihak yang menghambat bisa terancam pidana. Jadi, penetapan tersangka tersebut menunjukkan minimnya jaminan kebebasan berekspresi dan kemerdekaan pers," terangnya.

 Ilustrasi

Sementara itu, Koordinator Kontras Yati Andriyani menilai, bahwa aparat keamanan harusnya bisa lebih jeli dalam menilai mana yang penganiayaan dan mana yang merupakan pembelaan diri.

Terlebih, pelaku pengeroyokan terhadap Dedi adalah orang yang pernah terlibat kasus pengancaman seorang jurnalis lainnya terkait kasus di mana Dedi ikut memberitakannya.

"Artinya, terdapat unsur ancaman terkait profesi Dedi, dan itu pelanggaran hukum karena wartawan dilindungi Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers," kata Yati

Baca juga: Pengusaha Perlihatkan Pistol dan Ancam Jurnalis di Aceh, AJI-IJTI Desak Polisi Mengusut

Oleh karena itu, kami mendesak pihak berwenang untuk mencabut status tersangka Dedi dan menyelidiki kasus ini secara tuntas dan dengan seadil-adilnya. Jangan sampai ada dugaan penetapan tersangka dan pengeroyokan terhadap Dedi karena sikap anti kritik terhadap pemberitaan yang dilakukannya.

“Pelaku yang terlibat tindakan pengroyokan tersebut harus diproses hukum dan dijamin hak-haknya dalam proses peradilan yang adil dan mengedepankan prinsip HAM," jelasnya.

Sebelumnya, Polres Aceh Barat menetapkan Teuku Dedi Iskandar sebagai tersangka kasus penganiayaan di Meulaboh. Dia dituduh melanggar Pasal 351 Jo 352 KUHP tentang penganiayaan. Penetapan tersebut berangkat dari laporan seorang pelaku pengeroyok yang menganiaya Dedi.

Pengeroyokan terhadap Dedi terjadi pada Senin, 20 Januari 2020. Saat itu Dedi ngopi di sebuah warung kopi di Meulaboh bersama Kabag Humas Polres Aceh Barat untuk meminta klarifikasi terkait kasus kekerasan terhadap jurnalis lainnya.

Tiba-tiba ketua PWI Aceh Barat tersebut didatangi seorang rekannya yang membawa sekitar lima orang. Rekan Dedi tersebut memanggil Dedi ke belakang warung dan menyuruh Dedi menandatangani kuitansi utang.

Merasa tidak memiliki hutang, Dedi pun terkejut dan menolak. Sang rekan dan sekitar lima orang yang dibawa kemudian mengeroyok Dedi.

Penyerangan itu mengakibatkan Dedi mengalami sesak napas akibat benturan di bagian dada dan luka di tangan. Dedi lalu dilarikan ke RSUD Cut Nyak Dhien, Meulaboh. Namun pada 20 Februari 2020, Dedi justru dipanggil Polres Aceh Barat untuk didengarkan keterangannya sebagai tersangka kasus penganiayaan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini