nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

DPR Minta Semua yang Terlibat Klinik Aborsi Ilegal di Jakpus Disanksi Tegas

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Jum'at 21 Februari 2020 12:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 02 21 337 2171942 dpr-minta-semua-yang-terlibat-klinik-aborsi-ilegal-di-jakpus-disanksi-tegas-gIHgThkzuo.jpg DPR RI (Foto: Okezone)

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan, Melki Laka Lena meminta pelaku klinik aborsi ilegal di Jakarta Pusat (Jakpus) diberi sanksi tegas. Semua yang terlibat dalam praktik ilegal itu harus disanksi tanpa pandang bulu.

“Praktik semacam ini yang bermotif ekonomi dan motif lainnya harus diberi saksi tegas bagi tenaga kesehatan yang melakukan juga bagi orangtua bayi dan semua pihak yang terlibat dalam praktik aborsi ini,” kata Melki kepada Okezone di Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Baca Juga: Klinik Aborsi Ilegal di Jakpus Raup Untung Rp5,5 Miliar

Melki pun mendorong agar penegak hukum dan otoritas kesehatan sebaiknya memberikan sanski tegas kepada pelaku atau pun klinik aborsi ilegal ini.

“Kemenkes dan organisasi profesi bisa cabut izin praktik tenaga kesehatan dan proses hukum oleh polisi memakai pasal yang maksimal,” tutur dia.

Ilustrasi

Lebih jauh, menurut Melki, sejatinya aborsi hanya bisa dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan. Di antaranya, jika menyelamatkan nyawa ibu hamil dan janinnya.

“Aborsi hanya bisa dilakukan sesuai UU Kesehatan apalagi menyelamatkan nyawa ibu hamil dan atau janinnya dapat dilakukan tindakan medis tertentu,” ujar Melki.

Sebagaimana diketahui, polisi mengungkap kasus praktik aborsi ilegal di sebuah klinik yang beralamat di Jalan Paseban, Jakarta Pusat.

Klinik itu sudah berjalan sejak 2018 atau 21 bulan. Selama menjalankan operasi itu mereka meraup keuntungan hingga Rp5,5 miliar. Total dari 1.632 pasien sebanyak 903 orang sudah menggugurkan kandungannya.

Baca Juga: Aborsi di Klinik Paseban Jakpus Rata-Rata Akibat Hamil di Luar Nikah

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini