Tim Independen Ungkap Penyebab Kesimpangsiuran Data Kedatangan Harun Masiku

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 19 Februari 2020 15:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 19 337 2170916 tim-independen-ungkap-penyebab-kesimpangsiuran-data-kedatangan-harun-masiku-BdYo0mhfzi.jpg Tim gabungan independen pemeriksa kesimpangsiuran data perlintasan kedatangan buron Harun Masiku rilis hasil investigasi di Kemenkumham, Jakarta, Rabu (19/2/2020). (Foto : Okezone.com/Arie Dwi Satrio)

JAKARTA – Tim gabungan independen pemeriksa kesimpangsiuran data perlintasan kedatangan buron Harun Masiku telah merampungkan hasil investigasinya. Tim mengungkap ada kelalaian serta ketidaksinkronan data ketika Harun Masiku tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno Hatta (Soetta) dari Singapura.

Tim gabungan yang terdiri atas Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham), Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), serta Bareskrim Mabes Polri mendapati adanya ketidaksinkronan data pada aplikasi perlintasan keimigrasian dalam Sistem lnformasi Manajemen Keimigrasian (SIMKIM).

"Ketidaksinkronan tersebut disebabkan perbedaan data catatan perlintasan kedatangan orang antara yang terdapat pada PC Konter terminal 2F Bandara Soetta dengan server lokal di Bandara Soetta dan server Pusdakim pada Direktorat Jenderal Imigrasi," kata Kasi Penyidikan dan Penindakan Kemenkominfo yang juga masuk dalam tim gabungan, Sofyan Kurniawan saat konferensi pers di Kemenkumham, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2020).

Atas ketidaksinkronan data aplikasi perlintasan keimigrasian dalam SIMKIM, buron Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Harun Masiku melenggang bebas saat tiba di Indonesia. Data kedatangan Harun tidak terkirim ke sejumlah server keimigrasian. Harun tiba di Indonesia dari Singapura pada 7 Januari 2020 atau sehari sebelum operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

"Bahwa benar berdasarkan hasil pemeriksaan CCTV dan pemeriksaan data log di PC konter, seseorang atas nama Harun Masiku telah masuk ke Indonesia pada tanggal 7 Januari 2020, namun tidak terjadi pengiriman data dari PC Konter Terminal 2F Bandara Soetta ke server lokal dan seterusnya ke server Pusdakim Ditjen Imigrasi," ujarnya.

Tim gabungan independen pemeriksa kesimpangsiuran data perlintasan kedatangan buron Harun Masiku rilis hasil investigasinya di Kemenkumham, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (19/2/2020). (Foto : Okezone.com/Arie Dwi Satrio)

Tak hanya Harun Masiku, ungkap Sofyan, data sejumlah pendatang yang melewati terminal 2F Bandara Soetta juga tidak terkirim ke server Imigrasi sejak 23 Desember 2019 hingga 7 Januari 2020. Sehingga, ada banyak data pendatang sejak 23 Desember 2019 hingga 7 Januari 2020 yang tidak masuk ke server Ditjen Imigrasi.

Dari hasil investigasi tim gabungan, data-data penumpang pesawat tersebut tidak terkirim ke server Ditjen Imigrasi karena adanya kesalahan Uniform Resources Locator (URL) dalam aplikasi di komputer Keimigrasian terminal 2F Bandara Soetta. Sebab, kata Sofyan, saat itu SIMKIM atau sistem pencatatan data keimigrasian sedang dalam peningkatan dan pihak vendor lalai dalam menghubungkan data-datanya.

"Hal ini terjadi karena pihak vendor lupa dalam mensinkronkan ataupun menghubungkan data perlintasan pada PC konter Terminal 2F Bandara Soetta dengan server lokal Bandara Soetta dan seterusnya server di Pusdakim Ditjen Imigrasi," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Harun Masiku yang sedang diburu KPK pergi ke Singapura menggunakan maskapai Garuda Indonesia pada 6 Januari 2020 dan kembali melalui Bandara Soetta, pada 7 Januari 2020 menggunakan Batik Air. Namun, pihak Kemenkumham baru mengumumkan kedatangan Harun Masiku pada 22 Januari 2020 atau 15 hari setelah kepulangannya.

Harun Masiku tercatat di perlintasan Imigrasi sudah berada di luar negeri sejak Senin, 6 Januari 2020. Harun pergi ke Singapura bertepatan dua hari sebelum KPK melakukan OTT terhadap mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan. KPK menangkap Wahyu Setiawan bersama tujuh orang lainnya pada Rabu, 8 Januari 2020.

Imigrasi memastikan belum ada data perlintasan Harun kembali ke Indonesia dari Singapura pada 13 Januari 2020. Setelah beredar rekaman CCTV terkait keberadaan Harun Masiku di Bandara Soetta, tak lama Imigrasi membenarkan bahwa Harun sudah berada di Indonesia.

Kesimpangsiuran data perlintasan Harun Masiku itu berdampak pada pencopotan jabatan Ronny Sompie sebagai Dirjen Imigrasi. Kemenkumham langsung membentuk tim gabungan independen untuk mengungkap kesimpangsiuran informasi dan data kepulangan Harun Masiku tersebut.

Harun Masiku  (Foto : KPU)

Harun Masiku merupakan mantan caleg PDIP yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pemulusan proses Pergantian Antar Waktu (PAW) Anggota DPR. Ia lolos dalam OTT KPK pada 8-9 Januari 2020.

Harun ditetapkan sebagai tersangka bersama tiga orang lainnya. Ketiganya adalah mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan (WSE), mantan Anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sekaligus orang kepercayaan Wahyu, Agustiani Tio Fridelina (ATF) serta pihak swasta, Saeful (SAE).

Baca Juga : KPK Telusuri Aliran Suap PAW Anggota DPR ke Keluarga Wahyu Setiawan

Wahyu Setiawan dan Agustiani ditetapkan sebagai pihak penerima suap. Sementara Harun dan Saeful merupakan pihak yang memberikan suap.

Baca Juga : KPK Panggil Keluarga Wahyu Setiawan Terkait Suap PAW Anggota DPR

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini