Terobosan Kemenag, Sertifikasi Halal hingga Penguatan Pendidikan Agama & Keagamaan

Amril Amarullah, Okezone · Selasa 18 Februari 2020 16:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 18 337 2170383 terobosan-kemenag-sertifikasi-halal-hingga-penguatan-pendidikan-agama-keagamaan-LJn0wIa9hi.JPG Menteri Agama RI, Fachrul Razi (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Terobosan Kementerian Agama (Kemenag) selama masa 100 hari kerja di bawah kepemimpinan Menag Fachrul Razi di antaranya ialah inovasi penerbitan sertifikasi halal dan penguatan pendidikan agama dan keagamaan.

Khusus untuk sertifikasi halal, layanan pendaftaran dan konsultasi sertifikasi halal melalui PTSP (Oktober 2019), sedangkan penyiapan layanan online melalui website halal.go.id. Selanjutnya, Kemenag akan menggelar diklat calon auditor halal.

"Sinergi dengan stakeholders dalam penyelenggaraan sertifikasi halal, antara lain dengan sejumlah Perguruan Tinggi dan perbankan," ucap Menag Fachrul Razi dalam siaran persnya, Selasa (18/2/2020).

Kemudian, Kemenag akan melakukan penyederhanaan proses sertifikasi halal dengan memberikan kepastian waktu serta pembebasan biaya sertifikasi halal bagi usaha mikro dan kecil (UMK).

Kemenag juga melakukan terobosan upaya penguatan pendidikan agama dan keagamaan. Salah satunya dengan menjalin kerjasama dengan Uni Emirat Arab (UEA) dalam pengembangan e-learning madrasah. Program ini menyasar siswa kelas 7 pada Madrasah Tsanawiyah. Sudah ada 160 madrasah yang disiapkan, dari Papua hingga Aceh.

Selanjutnya finalisasi Peraturan Pemerintah (PP) dan Peraturan Menteri Agama (PMA) meningkatkan afirmasi negara terhadap perkembangan pesantren di Indonesia. Menag menekankan bahwa penguasaan bahasa asing untuk siswa madrasah juga diperlukan. Tahun ini diterapkan sebagai ekstra kurikuler, ke depan tidak menutup kemungkinan akan menjadi bagian dari kurikulum.

"Pemberian beasiswa pendidikan agama dan keagamaan (Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu). Penyaluran BOS dan KIP untuk siswa pendidikan agama," kata dia.

Selain program prioritas tersebut, Kemenag juga mengembangkan program kebimasan (Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha) untuk meningkatkan kualitas kehidupan beragama masyarakat Indonesia. Program kebimasan itu antara lain mencakup penguatan peran penyuluh agama non PNS. Caranya, dengan meningkatkan nilai tunjangan untuk mereka, dari sebelumnya hanya Rp500ribu, menjadi Rp1juta.

Santri Pesantren

“Ini berlaku untuk penyuluh semua agama,” ujarnya.

Kemenag terus menyalurkan bantuan untuk program rumah ibadah bersih dan sehat, termasuk bantuan rumah ibadah terdampak gempa dan banjir. Juga menyalurkan bantuan ormas keagamaan dan kitab suci.

“Kita juga memanfaatkan program bimbingan perkawinan, untuk sarana sosialisasi menurunkan angka stunting di Indonesia,” papar Menag.

Kemenag berkomitmen melakukan bimbingan perkawinan dalam rangka mempersiapkan keluarga yang baik dilakukan melalui bimbingan keluarga Sakinah (Ditjen Bimas Islam), bimbingan keluarga Sukinah (Ditjen Bimas Hindu), keluarga Kristiani (Kristen), keluarga Bahagia (Ditjen Bimas Katolik), dan keluarga Hittasukhaya (Ditjen Bimas Buddha).

Bekerjasama dengan BAZNAS, Bimas Islam juga mengembangkan program Percontohan Daerah Binaan berupa “Kampung Zakat” di kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Program ini sudah dibuka di Lebak, Seluma, Belu, Lombok Barat, Sambas, Raja Ampat, Halmahera Timur, Bekasi, Indargiri Hilir, Aceh Singkil, Bulukumba, Nunukan, Pulau Buru, dan Nabire.

Program “Kampung Zakat” tersebut bertujuan membangun masyarakat yang mandiri dan kuat melalui pemberdayaan masyarakat berbasis dana zakat, infak, dan sedekah, baik secara ekonomi, pendidikan, pembinaan keagamaan (dakwah), kesehatan, dan sosial kemanusiaan.

"Program ini didesain selama kurun waktu tiga tahun, yaitu fase perintisan, pelaksanaan, dan selanjutnya adalah kemandirian. Program ini dirancang untuk memberi kemudahan kepada masyarakat dalam mengakses pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, kebutuhan sembako, pelayanan dan perlindungan sosial, pembinaan mental dan lapangan pekerjaan," terangnya.

Sedangkan pada bidang kelitbangan, Kemenag telah merampungkan edisi revisi dan penyempurnaan terjemah Alquran yang diterbitkan Kemenag. Edisi revisi dan penyempurnaan ini telah di-launching pada Oktober 2019.

Kemenag juga meluncurkan Quran in Word atau Integrasi Alquran pada Microsoft Word untuk memudahkan masyarakat saat mencari tulisan Alquran dan terjemahannya/tafsirnya.

Alquran

Balitbangdiklat Kemenag telah melakukan konservasi atau penyelamatan lebih 2.500 manuskrip/naskah klasik dan karya ulama nusantara dalam bentuk digital. Ribuan manuskrip keagamaan juga telah diinventarisasi dalam bentuk database (thesaurus of indonesian islamic manuscripts).

Balitbangdiklat juga telah menghasilkan produk terjemah Alquran ke dalam 17 bahasa daerah yaitu Bahasa Kaili, Banyumas, Minang, Sasak, Mongondow, Batak Angkola, Kanayat,Toraja, Melayu, Ambon, Bali, Banjar, Sunda, Palembang, Madura, Makassar, dan Bugis.

Akhir tahun 2019, Balitbang telah merilis sejumlah survey indeks untuk mengukur Indikator Kinerja Kementerian Agama, antara lain: Survei Kerukunan Umat Beragama (rata-rata nasional 73,83), Survei Kepuasan Layanan KUA (77,28), Kepuasan Haji Dalam Negeri (87,66), Survei Layanan Kitab Suci (69,0), Survei Kesalehan Sosial (83,58) dan Survei Integritas/Karakter Siswa (70,70).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini