nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Haris Azhar Sebut Nurhadi Ada di Apartemen dengan Pengamanan Super Ketat

Arie Dwi Satrio, Okezone · Selasa 18 Februari 2020 13:20 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 18 337 2170247 haris-azhar-sebut-nurhadi-ada-di-apartemen-dengan-pengamanan-super-ketat-Wsw1RuaHIJ.jpg Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar di KPK (foto: Okezone.com/Arie)

JAKARTA - Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar mendapatkan informasi bahwa mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA), Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiono, ada di salah satu Apartemen mewah daerah Jakarta. Nurhadi dan Rezky, sambung Haris, dikawal dengan pengamanan super ketat di Apartemen tersebut.

Hal itu diungkapkan Haris saat mendampingi saksi, Paulus Welly Afandy untuk diperiksa penyidik KPK terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi pengurusan perkara di Mahkamah Agung (MA) yang menyeret Nurhadi dan menanantunya. Haris sendiri merupakan kuasa hukum salah satu pelapor dalam perkara ini (whistlerblower).

"Kalau informasi yang saya coba kumpulkan, maksudnya bukan informasi yang resmi dikeluarkan KPK ya, KPK sendiri tahu bahwa Nurhadi dan menantunya itu ada di mana. Di tempat tinggalnya di salah satu apartemen mewah di Jakarta," kata Haris di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (18/2/2020).

 Baca juga: Polri Terima Surat dari KPK Soal DPO Nurhadi Cs

Nurhadi dan Rezky Herbiono merupakan buronan KPK. KPK telah meminta bantuan Polri untuk memasukkan tiga nama tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di MA tahun 2011-2016 ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Ketiganya yakni, Nurhadi, Rezky Herbiono, dan Direktur PT Multicon Indrajaya Terminal (MIT), Hiendra Soenjoto.

Lebih lanjut, Haris berujar, bahwa Nurhadi dan Rezky juga mendapat pengawalan super ketat dalam apartemennya. Haris menyebut pengamanan super ketat Nurhadi 'Golden Premium Protection'. Meskipun dikawal pengamanan ketat, ia berharap agar KPK tidak takut dan ragu-ragu untuk menangkap Nurhadi Cs.

"Tetapi juga KPK enggak berani datang untuk ngambil Nurhadi, karena cek lapangan ternyata dapat proteksi yang cukup serius, sangat mewah proteksinya. Artinya, apartemen itu enggak gampang diakses oleh publik, lalu ada juga tambahannya dilindungi oleh apa namanya pasukan yang sangat luar biasa itu," bebernya.

 Baca juga: KPK Ancam Pidanakan Pihak-Pihak yang Sembunyikan Nurhadi Cs

"Mereka dapat proteksi perlindungan yang golden premium protection yang KPK kok jadi kayak penakut gini, enggak berani ambil orang tersebut. dan itu kan akhirnya menjadikan pengungkapan kasus ini jadi kayak terbengkalai," sambung dia.

Sebelumnya, KPK mengancam akan memidanakan pihak-pihak yang dengan sengaja menyembunyikan atau merintangi proses penyidikan Nurhadi Cs. KPK mengingatkan ada ancaman pidana Pasal 21 Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) bagi pihak yang sengaja merintangi proses penyidikan dengan hukuman pidana maksimal 12 tahun penjara.

"KPK akan bertindak tegas dan terus memproses perkara ini dan akan melakukan tindakan tegas sesuai hukum terhadap pihak-pihak yang tidak koperatif ataupun jika ada pihak-pihak yang melakukan perbuatan obstruction of justice atau menghalang-halangi proses hukum," kata Plt Jubir KPK, Ali Fikri saat dikonfirmasi.

Berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, ada ancaman pidana minimal penjara 3 tahun dan paling lama 12 tahun serta denda paling sedikit Rp150 juta dan paling banyak Rp600 juta terhadap pihak-pihak yang merintangi penyidikan KPK.

Nurhadi, Rezky, dan Hiendra tercatat sudah tiga kali mangkir alias tidak menghadiri panggilan pemeriksaan KPK. Ketiganya mangkir setelah dipanggil secara patut baik sebagai saksi maupun tersangka. KPK kemudian mengambil langkah tegas terhadap ketiganya menetapkan sebagai buronan.

Dalam perkara ini, Nurhadi dan menantunya Rezky diduga menerima suap dan gratifikasi dengan total Rp46 miliar terkait pengurusan perkara di MA tahun 2011-2016. Terkait kasus suap, Nurhadi dan menantunya diduga menerima uang dari dua pengurusan perkara perdata di MA.

Pertama, melibatkan PT Multicon Indrajaya Terminal melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero). Kemudian, terkait pengurusan perkara perdata sengketa saham di PT MIT dengan menerima Rp33,1 miliar.

Adapun terkait gratifikasi, tersangka Nurhadi melalui menantunya Rezky dalam rentang Oktober 2014–Agustus 2016 diduga menerima sejumlah uang dengan total sekitar Rp12,9 miliar. Hal itu terkait dengan penanganan perkara sengketa tanah di tingkat kasasi dan PK di MA dan permohonan perwalian.

Nurhadi dan Rezky disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b subsider Pasal 5 ayat (2) subsidair Pasal 11 dan atau Pasal 12B Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Hiendra disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b subsider Pasal 13 Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini