Peristiwa 18 Februari: 500 Jiwa Meninggal Akibat Keributan Etnis di Sampit

Fadel Prayoga, Okezone · Selasa 18 Februari 2020 07:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 18 337 2170064 peristiwa-18-februari-500-jiwa-meninggal-akibat-keributan-etnis-di-sampit-iv5G6GBclO.jpg Ilustrasi

1965 - Gambia merdeka dari Britania Raya.

Republik Gambia adalah sebuah negara di Afrika Barat. Seluruh perbatasan darat Gambia dikelilingi oleh Senegal di bagian utara, timur, dan selatan serta Samudra Atlantik di bagian barat.

Wilayah negara terkecil di Afrika daratan ini tergolong unik karena apabila negara Senegal dianggap mulut, maka Gambia adalah lidah dan giginya, sedangkan bentuk Gambia sendiri seperti ular dengan mulut yang datar dengan muara Sungai Gambia sebagai lidahnya.

2001 - Kekerasan antar-etnis antara Dayak dan Madura pecah di Sampit, Kalimantan Tengah, lebih dari 500 korban jiwa dan 100.000 pengungsi.

Konflik Sampit adalah pecahnya kerusuhan antaretnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik ini dimulai di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka Raya.

Konflik ini terjadi antara suku Dayak asli dan warga migran Madura dari pulau Madura. Konflik tersebut pecah pada 18 Februari 2001 ketika dua warga Madura diserang oleh sejumlah warga Dayak.

Konflik Sampit mengakibatkan lebih dari 500 kematian, dengan lebih dari 100.000 warga Madura kehilangan tempat tinggal. Banyak warga Madura yang juga ditemukan dipenggal kepalanya oleh suku Dayak.

2005 - Dua Wartawan Indonesia Diculik dan Disandera di Irak

Meutya Hafid

Dua wartawan Indonesia di salah satu stasiun televisi swasta yaitu Meutya Hafid dan juru kamera Budiyanto diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di Irak.

Penyandera menganggap kedatangan kedua wartawan tersebut merupakan utusan pemerintah Indonesia untuk ikut campur dalam kepentingan politik yang saat itu sedang terjadi.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengklarifikasi bahwa kedua jurnalis itu sedang menjalankan tugas yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kepentingan politik. Ia pun meminta Brigade Mujahiddin di Irak untuk membebaskan wartawan tersebut.

Mereka akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005. Peristiwa itu pun Meutya abadikan dalam sebuah buku ‘168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak’.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini