nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menkes Tunggu Hasil Pemeriksaan 78 WNI di Kapal Pesiar Diamond Princess

Fahreza Rizky, Jurnalis · Senin 17 Februari 2020 15:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 17 337 2169738 menkes-tunggu-hasil-pemeriksaan-78-wni-di-kapal-pesiar-diamond-princess-YmFxdnNgg2.jpg Menkes Terawan Agus Putranto (Foto: Okezone)

JAKARTA - Sebanyak 78 warga negara Indonesia (WNI) "terkepung" virus korona atau Covid-19 di atas Kapal Pesiar Diamond Princess. Kapal tersebut sekarang bersandar di Yokohama, Jepang.

Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan akan memulangkan mereka, karena masih menunggu hasil pemeriksaan. Apalagi, di sana sedang dilakukan karantina.

"Kita tunggu hasil PCR-nya. Hasil pemeriksaannya," kata Terawan saat jumpa pers di Gedung Bina Graha, Kantor Staf Presiden (KSP), Jakarta, Senin (17/2/2020).

Baca Juga: Kisah WNI Dikarantina di Kapal Pesiar Diamond Princess: Minta Obat hingga Mi Instan

Terawan menegaskan, jika 78 WNI itu dinyatakan negatif virus korona, kemungkinan akan menjemputnya. Namun, harus seizin pemerintah Jepang.

"Kalau itu negatif, saya juga akan ke sana. Mengecek dan juga menjemputnya. Menkes yang ke sana. Tapi saya koordinasi dulu diperkenankan enggak secara protokoler kenegaraan. Karena kita selalu menghargai hubungan antarnegara," tutur Terawan.

Kapal pesiar Diamond Princess Foto AP via Kyodo News

Mantan Kepala RSPAD Gatot Soebroto itu memastikan pemerintah Indonesia akan bertanggung jawab terhadap 78 orang WNI di kapal pesiar Jepang tersebut.

"Pemerintah bertanggung jawab semuanya dan kita akan menunggu hasil yang akan dilaporkan oleh Kemenkes Jepang pada hasil pemeriksaan," kata Terawan.

Baca Juga: Kebutuhan Pokok 78 WNI di Kapal Pesiar Diamond Princess Terpenuhi

Dia memastikan WNI yang berada di kapal Jepang tersebut dalam kondisi sehat. Namun, pemerintah Indonesia butuh sertifikasi atau bukti tertulis bahwa mereka memang benar-benar sehat untuk keperluan dalam negeri.

"Kami butuh sertifikasi. Sehingga kalau di sini nanti sehat dan baik, ngapain diobservasi lagi? Sudah cukup kalau sehat. Karena itu dipastikan lagi bagi kita apakah diperkenankan untuk melakukan pengecekan dan penjemputan," ujar Terawan.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini