Cegah Bullying, DPR Dorong Sekolah Gelar Diskusi Rutin Soal Perundungan

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Sabtu 15 Februari 2020 07:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 15 337 2168813 cegah-bullying-dpr-dorong-sekolah-gelar-diskusi-rutin-soal-perundungan-RqfAWg9Uak.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

JAKARTA - Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf mengaku prihatin atas kasus bullying atau perundungan yang terjadi di salah satu sekolah di Purworejo, Jawa Tengah.

Ia berharap, peristiwa serupa bisa dicegah dengan adanya komunikasi antara guru, pelajar, hingga kepada orangtua yang menyekolahkan anaknya.

"Kalau sekarang ini guru-guru banyak dipolisikan dan itu membuat para guru banyak yang takut. Sehingga dia lebih baik itu mengambil sertifikasi," ujar Dede saat berbincang kepada Okezone, Sabtu (15/2/2020).

Menurut Dede, perundungan sekolah dibisa dicegah dengan memberikan tindakan yang tegas kepada para pelaku. Namun, lanjut dia, hukuman tersebut terlebih dahulu disepakati dengan pihak komite sekolah, guru, hingga ke orangtua siswa.

"Undang itu kalau perlu kepala dinas disepakati hukumannya. Jadi, jika anak begini sanksinya begini, supaya kalau anaknya disanksi orangtua tidak ngomel," ujarnya.

Selain itu, politisi Demokrat ini menilai perlu ada diskusi rutin yang dilakukan pihak sekolah dengan orangtua murid yang membahas maraknya bullying di sekolah. Pasalnya, selama ini perundungan kerap terjadi karena tidak adanya pengawasan yang diberikan kepada para pelajar.

"Di beberapa negara ada pakai CCTV jadi kalau terjadi (bullying) ya terpantau. Menurut saya diskusi soal bullying dilakukan secara rutin sehingga kalau ada anak tertekan mereka tahu kemana mereka harus mengadu. Kalau anak yang melakukan dia tahu sanksinya itu apa," imbuhnya.

Dede menjelaskan bahwa dirinya tak setuju bila persoalan pelajar pelaku bullying dibawa ke jalur hukum. Pasalnya, pelajar pelaku bulliying umumnya hanya bermotif untuk bergaya saja hingga mencari jati diri. Sehingga belum mengetahui apa dampak dari ulahnya tersebut.

"Proses ini harus diselesaiukan di jalur pendidikan dan sekolah, bukan jalur hukum. (Kalau dipolisikan) nanti dicari-cari pasalnya dan akhirnya dia dipenjara dan keluar dari penjara masa depannya juga suram," pungkasnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini