KPAI Akan Pastikan Korban Bullying di Purworejo Direhabilitasi

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Sabtu 15 Februari 2020 06:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 15 337 2168784 kpai-akan-pastikan-korban-bullying-di-purworejo-direhabilitasi-d2cAbqq8wG.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin atas peristiwa perundungan atau bullying yang dilakukan oleh tiga siswa terhadap seorang siswi di salah satu sekolah di Purworejo, Jawa Tengah.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan, pihaknya menyayangkan perundungan terjadi di lingkungan sekolah saat masih jam sekolah, dan di dalam kelas serta tidak ada pengawasan oleh pihak sekolah maupum guru piket.

"Anak lain di sekitar anak pelaku, dan anak korban juga tidak ada yang melaporkan pada guru piket atau guru wali kelas. Tidak ada juga CCTV di dalam kelas, sehingga tidak dapat dideteksi oleh pihak sekolah," kata Retno kepada Okezone, Sabtu (15/2/2020).

 Baca juga: Ganjar Minta Siswi Korban Bullying Pindah Sekolah

Retno menegaskan, bahwa KPAI akan segera bersurat kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo untuk meminta kronologi kejadian dan laporan penanganan kasus perundungan tersebut.

"KPAI juga akan memastikan hak-hak anak korban untuk rehabilitasi medis dan rehabilitasi psikis dipenuhi pemerintah daerah, termasuk pemenuhan hak-hak anak pelaku seperti hak atas pendidikan dan hak untuk mendapatkan rehabilitasi psikis," paparnya.

 Baca juga: Pelaku Bullying di Purworejo Harus Dihukum Keras agar Jera

KPAI mendorong agar orangtua untuk ikut mengawasi media sosial anak-anaknya, sembari melakukan edukasi kepada anak-anak cara menggunakan medsos yang aman dan sehat.

"Kekerasan fisik maupun kekerasan verbal di kalangan sesama pelajar dengan pelaku dan korban anak memang marak akhir-akhir ini, termasuk cyber bully. Hal tersebut juga dipicu dengan era digital dan medsos saat ini. Anak-anak tersebut adalah generasi milenial yang merupakan pengguna internet dan medsos secara aktif. Sehingga perilaku mereka yang mengunggah video perundungan ke dunia maya dapat viral dan diketahui publik secara luas," ujarnya.

Retno menerangkan, KPAI mendorong sekolah memiliki sistem pengaduan yang melindungi anak korban dan anak pelaku ketika mengadu jika adanya peristiwa bullying. Kekerasan di dunia pendidikan juga terus terjadi karena sekolah tidak memiliki sistem pengaduan yang melindungi anak korban dan anak saksi.

Menurut dia, sistem pengaduan juga seharusnya tidak berbentuk ruangan secara fisik, melainkan menggunakan daring. Dengan begitu, anak akan nyaman mengadu dan fleksibel secara waktu untuk melakukan pengaduan.

"Namun yang lebih penting sekolah menindaklanjuti setiap laporan dengan tetap melindungi pelapor/pengadu. Penanganan yang tidak melindungi korban, akan berpotensi kuat kalau pengadu/korban akan makin di bully fisik karena pelaku tidak terima kalau perbuatannya dilaporkan kepada pihak sekolah seperti terjadi dalam kasus perundungan di Purworejo ini," imbuhnya.

KPAI juga mendorong orang dewasa di sekitar anak mempunyai kepekaan terhadap anak-anak yang mengalami perundungan. Retno meminta orang dewasa tak menganggap remeh dampak perundungan lantatan dapat menganggu tumbuh kembang anak.

"Anak juga harus dididik berani bicara, berani menolak, speak up!" tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini