nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peristiwa 14 Februari: Hari Valentine hingga Peringatan Pembela Tanah Air

Fakhrizal Fakhri , Jurnalis · Jum'at 14 Februari 2020 07:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 02 14 337 2168241 peristiwa-14-februari-hari-valentine-hingga-peringatan-pembela-tanah-air-LpjyUlaGr5.jpg Ilustrasi. (Foto: Dok Okezone.com)

SEJUMLAH peristiwa bersejarah berlangsung pada hari ini, Jumat (14/2/2020). Okezone merangkum dua peristiwa besar terjadi, mulai dari hari kasih sayang atau Valentine’s Day hingga peringatan hari Pembela Tanah Air (Peta).

Hari Valentine

Di berbagai belahan dunia, Hari Valentine atau yang juga disebut dengan hari kasih sayang menjadi momen bagi pasangan kekasih untuk merayakannya.

Peristiwa ini sudah berlangsung sejak abad ke-19 dengan tradisi penulisan pernyataan cinta lewat kartu ucapan kepada pasangan, atau siapapun yang dicintainya.

(Foto: Pinterest)

The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan, di seluruh dunia sekitar satu miliar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hal ini membuat hari tersebut merupakan hari terbesar kedua setelah Natal, di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirakan para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Selain itu, sebuah kencan pada hari Valentine seringkali dianggap terlibat dalam sebuah relasi serius.

Hari Peringatan Pembela Tanah Air (Peta)

Tentara Sukarela Pembela Tanah Air atau Peta adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang.

Tentara Peta dibentuk pada 3 Oktober 1943, berdasarkan maklumat Osamu Seirei No. 44 yang diumumkan Panglima Tentara Ke-16, Letnan Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela.

Tentara Peta telah berperan besar dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya tergabung dalam Peta, antara lain mantan Presiden Soeharto hingga Jenderal Besar Soedirman.

Pada 14 Februari 1945, pasukan Peta di Blitar, di bawah pimpinan Supriadi melakukan pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan penjajah dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan Peta maupun Heiho.

Pimpinan pasukan pemberontakan tersebut, Supriadi dinyatakan hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, yakni Muradi, tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir.

Pada akhirnya, mereka semua setelah disiksa selama penahanan oleh Kempeitai (PM), kemudian diadili dan dihukum mati dengan hukuman penggal sesuai dengan hukum militer Tentara Kekaisaran Jepang di Evereld (sekarang Pantai Ancol) pada 16 Mei 1945.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini