Tim Veronica Koman Kirim Surat ke Presiden Jokowi, Ini Tanggapan Mahfud MD

Fahreza Rizky, Okezone · Selasa 11 Februari 2020 20:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 11 337 2166986 tim-veronica-koman-kirim-surat-ke-presiden-jokowi-ini-tanggapan-mahfud-md-FEuh7fGyAC.jpg Menko Polhukam, Mahfud MD. (Foto: Okezone.com/Fakhrizal Fakhri)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan, surat yang dikirim oleh tim Veronica Koman ke Jokowi hanyalah ‘sampah’. Surat itu berisi data tahanan politik dan korban tewas di Papua.

"Belum dibuka kali suratnya. Surat banyak. Kan surat orang banyak. Rakyat biasa juga ngirim surat ke Presiden. Jadi kalau memang ada, sampah sajalah kalau kayak gitu," kata Mahfud di Istana Bogor, Selasa (11/2/2020).

Mahfud menuturkan, ketika Presiden Jokowi berada di Australia, banyak sekali orang yang berjabat tangan serta memberikan surat atau amplop. Namun, ia tak tahu apakah ada tim Veronica Koman di situ.

"Surat seperti itu banyak. Orang berebutan salaman, kagum kepada Presiden, ada yang ngasih map, amplop surat gitu. Jadi tidak ada urusan Koman apa bukan. Kita ndak tahu Koman apa bukan. Setiap surat kita bawa, kan suratnya banyak," ucapnya.

Veronica Koman. (Foto: Istimewa)

"Ya (mungkin) bener aja dia ngirim, tapi kan sama aja dengan surat-surat lain, ada yang surat pujian, koreksi, kan setiap hari banyak, melalui WA juga banyak," tambah Mahfud.

Pengacara Hak Asasi Manusia (HAM) Veronica Koman mengatakan, timnya sudah menyerahkan data tersebut kepada Presiden Jokowi saat ke Canberra, Australia. Veronica dan aktivis mendesak agar krisis politik dan kemanusiaan di Bumi Cendrawasih segera dihentikan.

Baca juga: Mahfud MD Klaim Sudah Lakukan Pendekatan Komprehensif soal Papua

“Tim kami di Canberra telah berhasil menyerahkan dokumen-dokumen ini langsung kepada Presiden Jokowi. Dokumen ini memuat nama dan lokasi 57 tahanan politik Papua yang dikenakan pasal makar, yang saat ini sedang ditahan di tujuh kota di Indonesia," kata Veronica lewat keterangan tertulisnya.

"Kami juga menyerahkan nama beserta umur dari 243 korban sipil yang telah meninggal selama operasi militer di Nduga sejak Desember 2018, baik karena terbunuh oleh aparat keamanan maupun karena sakit dan kelaparan dalam pengungsian,” tambah dia.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini