Catatan Jurnalis, Bertaruh Nyawa Meliput Bencana

Rus Akbar, Okezone · Senin 10 Februari 2020 09:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 10 337 2165926 catatan-jurnalis-bertaruh-nyawa-meliput-bencana-Wc7XueLyiN.jpg Zulia Handayani sudah makan asam garam saat meliput bencana (Foto: Okezone/Dok.Pribadi)

PADANG - Zulia Yandani seorang wartawan berita radio di Kota Padang mungkin sudah tidak asing lagi bagi rekan-rekan seprofesinya di Kota Padang, Sumatera Barat.

Bencana-bencana sudah makanan empuk baginya, apalagi Sumatera Barat merupakan "supermarket" bencana, mulai dari gempa, tsunami, banjir bandang, longsor, angin puting beliung, kebakaran hutan, gunung meletus sudah menjadi sarang di daerah andalas ini.

Sejak tahun 2007 sampai saat ini beberapa bencana juga sudah menjadi liputannya meski ada liputan lain yang dilakukan. Mulai gempa patahan sesar semangka Sumatera pada 2007 di Kabupaten Solok, gempa 30 September 2009 di Sumbar dan gempa dan tsunami 25 Oktober 2010 di Mentawai.

“Namun sebanyak itu liputan bencana baru terasa berat dirasakan tsunami Mentawai, transportasi kesana sulit, saat itu masih ada kapal kayu, infonya susah cari sinyal telepon, awalnya tidak ada informasi tsunami, dimana saat itu kami latihan gempa dan tsunami, kemudian kami tanya BPBD Sumbar mereka bilang tidak ada itu tsunami, tiba-tiba muncul laporan 24 orang meninggal karena tsunami dan info tersebut bertambah korban bencana,” ujarnya pada Okezone, Sabtu (8/2/2019).

Untuk menuju ke Mentawai kata Lia, panggilan akrab Zulia Yandani, sangat susah, dua hari setelah bencana gempa dan tsunami di Mentawai itu baru bisa numpang dengan kapal perang milik TNI AL.

Zulia Handayani

“Akses kesana susah, akhirnya memakai kapal perang makan tidak jelas, kami bawa roti tawar kemudian dikempeskan biar kecil, kami bertiga ada Mario dan Arya, saat itu saya masih di Kantor Berita Radio 68 H, roti panjang satu meter kemudian dikempeskan jadi kecil untuk stok makanan,” tuturnya.

Saat itu Arya juga bawah peralatan kemping, sesampai di Mentawai di Kecamatan Sikakap pada saat sampai di tempat tersebut ternyata susah untuk menginap, numpang dimana tenda terbatas, makanan tidak ada.

“Itu betul-betul menguji ketangguhan, kami juga membawa obat anti malaria, kemudian strategi lain yang kami lakukan adalah mendekatkan diri kepada dokter itu mengatasi kalau terjadi apa-apa, tapi kita juga siapkan pasokan vitamin,” tuturnya.

Ternyata sampai di Sikakap, lokasi tsunami itu tidak ada disitu harus lagi naik perahu kecil untuk menuju lokasi, Sikakap hanya sebagai basecamp dan tempat rumah sakit darurat. Jadi masyarakat yang mengalami luka-luka dari berbagai daerah baik itu di Pagai Utara dan Pagai Selatan itu diangkut ke Sikakap untuk di obati, kalau parah sakitnya akan dievakuasi dengan helikopter ke Padang, jika dengan kapal maka akan memakan satu hari ditambah kondisi pasien darurat.

“Sesampai kami di Sikakap air susah, untuk shalat saja tidak ada air, kalaupun ada air untuk mendapatkanya perlu perjuangan, ditambah lagi cuaca tak menentu baju yang kita jemur baru 10 menit sudah hujan, akhirnya baju susah diganti-ganti,” terangnya.

Di Sikakap saat itu sinyal telepon payah, lama liputan gempa dan tsunami Mentawai disana itu ada sekira satu minggu. Dua hari Lia bersama dua temannya itu sudah susah tidur karena saat itu tidak ada penginapan kalaupun ada itu sudah diisi oleh pejabat disana yang bekerja memberikan bantuan kepada korban dan relawan-relawan lain.

“Kantor sempat bilang janganlah liputan di sana, kami (kantor) tidak tanggung daerahnya masih berbahaya. Sinyal telepon yang susah saat itu, sementara wartawan radio juga harus live, saat itu saya mencari sinyal tepat dibawah pohon jengkol sinyalnya bagus, di situ berdiri memberikan laporan," jelasnya.

"Mentawai itu memang teruji, mulai dari makan kita, mandi, stok makanan. Memasuki hari kedua karena tidak ada tempat tidur pada saat itu kami jebollah ruang KUA karena sudah hari kami tidak ada tidur, kantor tersebut kosong tidak ada yang datang, kami tidur disitu ada air dibak itu bisalah kami mandi,” katanya.

Untuk mengakses ke lokasi tsunami yang berjarak berjam-jam tempuh dengan perahu, bagi Lia perahu siapapun yang pergi ke lokasi mereka menumpang, baik itu perahu relawan, polisi dan dokter mereka menumpang.

Ada peristiwa yang membuat Lia sangat tegang, saat itu Lia menumpang perahu dokter Tatik yang pulang menjemput pasien terkena tsunamim, badannya luka-luka dan itu sudah beberapa hari, saat itu kondisi pasien sangat gawat, kondisi badannya sudah panas.

“Kami ikut disitu, rasa mau mati ombak laut tinggi-tinggi, kami hanya bisa ngucap saja di atas kapal itu, air mata sudah menahan-nahan melihat kondisi pasien yang kritis dan dibawah ke gereja di Sikakap sebagai rumah sakit darurat, itu rasanya kita tidak bisa bantu dalam keadaan darurat," ungkapnya.

"Seandainya saya dokter kita bisa bantu tapi saya bukan dokter jadi tidak bisa bantu, disaat itu tidak ada melihat jenis kelamin lagi, mau perempuan atau laki-laki, maupun agama semuanya kemanusiaan, besok paginya kami datangi lagi gereja itu melihat kondisi pasien yang dievakuasi dokter tersebut ternyata sudah mulai bernapas baik dan kami lega,” tuturnya.

Pernah juga Lia ke lokasi bencana itu memakai kendaraan roda dua, jadi bisa jalur laut bisa juga jalur darat tapi jalanya rusak parah. “Saat itu kami lewat pantai kemudian putus tali rantai motor, bengkel tidak ada harus bisa membengkel sendiri motor tersebut, rantai diperbaiki akhirnya liputan tetap berlanjut,” ujarnya.

Lia menambahkan ada yang mengerikan, ketika kunjungan gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno ke lokasi gempa, Lia ikut meliput kunjungan tersebut naik kapal namun ketika pulang kapal yang ditumpangi itu mengalami mati mesin di tengah laut, ombak makin lama makin besar mereka mengapung-ngapung di tengah laut.

“Saya saat itu saya tidur, tapi setengah sadar, apa kata operator kemarin ada wartawan cewek dari salah satu tv, awal berangkatnya banyak kali omongnya, kemudian bertemu sama ombak besar nangis minta balik. Tapi saat ini sudah mati mesinnya adek itu (saya) malah tidur di kapal, gimana lagi mau nangis gimana, kita kuatkan aja doa, akhirnya beberapa jam kemudian kapal kami ditarik kapal lain yang kebetulan lewat di lokasi tersebut,” tuturnya.

Lia memiliki prinsip, wartawan tidaklah bisa menolong materi, tapi cara menolong para korban itu dengan cara membuat berita menyampaikan kepada masyarakat luas, dari sana nanti akan ada bantuan untuk para korban. Kini Lia masih aktif sebagai wartawan radio di Radi Classy Padang. (Kha)

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini