Mereka yang Tetap Menjunjung Tinggi Kode Etik Jurnalistik Meski Nyawa Dipertaruhkan

Adi Rianghepat, Okezone · Sabtu 08 Februari 2020 13:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 08 337 2165358 mereka-yang-tetap-menjunjung-tinggi-kode-etik-jurnalistik-meski-nyawa-dipertaruhkan-6MYCJwDKy0.jpg Ilustrasi

KUPANG - Hari masih sangat pagi. Jam baru saja menunjuk pukul 09.00 WITA. Namun Arul (45) sudah bergegas memacu motor tuanya.

"Hari ini ada liputan, perintah kantor saya harus mewancarai Gubernur terkait suatu hal," katanya sambil bergegas pergi.

Arul salah seorang jurnalis berstatus kontributor sebuah media yang kantornya berada di Jakarta. Karena berstatus kontributor, dia harus berjuang keras memenuhi perintah kantornya yang ditugaskan kepadanya.

"Ya, kalau diperintah kantor kan hasil liputan sudah pasti ditayang dan tentu akan ada imbas hasil buat saya," katanya lagi saat berjumpa di tempat berkumpul sejumlah jurnalis.

Dia mengaku saban waktu harus memantau sejumlah informasi untuk menakar kelaikan agar dijadikan sebuah tulisan dan dikirim ke redaksinya.

Ilustrasi

"Kalau saya nilai layak saya bikinkan berita dan kadang saya harus berkoordinasi dengan pengampu saya di redaksi untuk memastikan layak tidaknya sebuah informasi untuk dijadikan berita," katanya berkisah.

Tak mudah memang, menjadi seorang jurnalis berstatus kontributor. Terlalu banyak beban dipikul. Mulai dari beban menafkahi keluarga hingga beban malu kepada narasumber yang hasil wawancara gagal tayang.

Sebagai kontributor, kata dia, tak semua hasil liputan layak tayang. Banyak pertimbangan yang melatarinya versi redaksi. Alasan nilai sebuah berita kadang menjadi sandungan serius bagi gagal tayang sebuah hasil liputan di daerah.

"Meskipun kadang ada juga kejadian sama ditayang di media nasional lain dan di media saya tak tayang. Di sinilah saya merasa sedikit aneh. Nilai berita jenis apa yang dibutuh media saya," kisahnya.

Di kondisi tak banyak hasil liputan yang ditayang itulah, kata Arul akan sangat berkonsekuensi lurus terhadap penghasilan bulanannya. Tak banyak (uang) yang akan dia peroleh, meskipun saban hari, upaya untuk mencari dan mengemas isu liputan sudah dilakukan matang.

"Penghasilan tiap bulannya tak bisa menutupi biaya aktivitasnya tiap hari. Apalagi untuk membiayai kehidupan keluarga yang lebih besar. Harga yang dibayar untuk satu berita tayang pun kecil, bagaimana bisa penuhi seluruh kebutuhan saya dan keluarga," katanya agak lirih.

Tetap Junjung Tinggi Kode Etik

Di tengah kondisi yang dialami Arul itu, jurnalis matang ini mengaku akan tetap menjaga konsistensi, profesionalitas dan ingeritas dirinya sebagai jurnalis di setiap tugasnya.

Tata etik dan segala bentuk aturan yang telah menjadi garis pandu bagi para jurnalis tetap dia pegang teguh. "Kode etik jurnalis dan Undang-undang 40 tahun 1999 tentang Pers menjadi pemandu saya beraktivitas tiap hari. Apapun alasannya," katanya.

Dia mengaku tak akan tergiur dengan cara-cara dan praktik tak beretika seperti, meneror dan memeras meskipun tak beruang. Bagi ayah satu anak itu, harga dan martabatnya sebagai seorang manusia (jurnalis) harus tetap harum meskipun harus menikmati pahitnya hidup dengan kondisi ekonomi yang jauh dari layak.

Ilustrasi

Arul mengatakan, apa yang dialaminya setidaknya sedang dialami juga oleh sejumlah jurnalis berstatus kontributor lainnya di hampir sebagian daerah di Nusantara ini. Hal itu menurut dia, karena adanya pembiaran jika tak mau dibilang tak mau peduli dari perusahaan pers tempat para kontributor mengabdi.

Ketidak pedulian terhadap harkat dan martabat manusia (jurnalis) sedang dipraktikkan oleh sejumlah pengusaha pemilik media. Namun begitu, kata dia, apa daya yang bisa diperbuat.

"Kami hanyalah kuli sebuah perusahaan media yang pemiliknya pengusaha yang bergelimpangan harta. Tetapi kami adalah manusia yang patut juga mendapatkan penghargaan atas nama kemanusiaan itu. Ada harkat dan martabat kami yang diabaikan," tuturnya.

Di balik semuanya itu, Arul berharap nasib yang dialami serta sejumlah rekan jurnalis berstatus kontributor lainnya tak lagi terus berulang dan melebar untuk anak bangsa (jurnalis) lainya.

Setidaknya menjadi jurnalis adalah pilihan untuk menjadikan dirinya pewarta adil bagi anak bangsa lainnya. Setidaknya ada hal baik di profesi jurnalis yang sedang dilakoni Arul dan teman-teman jurnalis lainnya.

Karenanya penting ada pertimbangan kemanusiaan dari pemilik perusahaan media bagi sebuah kesejahteraan yang lebih baik untuk tetap menjaga harkat dan martabat sebuah sosok yang disebut jurnalis itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini