Curhat Jurnalis, Tetap Ambil Gambar Meski Busur Panah Mengoyak Pakaian

Demon Fajri, Okezone · Sabtu 08 Februari 2020 12:44 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 08 337 2165351 curhat-jurnalis-tetap-ambil-gambar-meski-busur-panah-mengoyak-pakaian-8NrODFo6XJ.jpg Hery Supandi telah makan asam garam di dunia jurnalistik (Foto: Okezone/Dok. Pribadi)

BENGKULU - Berprofesi sebagai jurnalis, selalu dibayangi dengan pekerjaan yang susah-susah. Di mana jurnalis harus memiliki militansi tinggi, skeptis, dan siap perintah. Sehingga banyak risiko yang harus diterima sebagai jurnalis.

Jurnalis juga musti dituntut mematuhi kode etik jurnalistik. Lalu, dituntut mampu menulis berita, mencari narasumber, memahami isu, serta mempertanggungjawabkan informasi yang disebarluaskan.

Meskipun banyak tantangan, menjadi jurnalis bisa memiliki pengalaman luar biasa. Tak semua profesi bisa melakoninya. Sebab banyak pengorbanan dan risiko yang dihadapi. Ancaman nyaris kehilangan nyawa hingga honor tak sebanding dengan berita, misalnya.

Berbagai pengalaman telah dirasakan sosok pria 43 tahun ini. Hery Supandi, namanya. Dia sudah menjadi jurnalis selama 20 tahun. Nyaris kehilangan nyawa, saat liputan pun sudah beberapa kali dirasakan pria kelahiran Bengkulu, 8 Mei 1977 ini.

Anak Panah Menempel di Baju

Hery Supandi

Suami dari Ine Lestari ini berbagi pengalaman. Ketika dia menjadi koresponden SCTV. Saat itu Hery di Bawah Kendali Operasi (BKO) ke Jakarta, pada tahun 2005. Dia diminta untuk liputan ke Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan, pada Selasa, 01 Maret 2005.

Liputan sidang kasus pembunuhan tokoh pemuda Maluku, Basri Sangaji. Pada hari itu massa pendukung Basri Sangaji dan John Key terlibat keributan, ketika majelis hakim menghadirkan sejumlah terdakwa.

Bentrokan berlanjut hingga keluar ruangan. Massa saling ancam menggunakan senjata tajam dan melempar batu, tepat di depan Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kedua kelompok saling menyerang.

Saat bentrokan terjadi bapak dari dua orang anak ini, berada di tengah-tengah dua massa yang bentrok. Rekan-rekannya yang ikut dalam liputan tersebut sempat bersembunyi di selokan di daerah itu.

Namun, tidak dengan ayah dari Nela Aprilia Supandi ini. Hery tetap mengambil gambar. Meskipun nyawanya terancam. Dia sudah terjebak diantara dua massa yang bentrok. Tidak bisa berlari ke tempat aman. Sehingga memutuskan tetap mengambil gambar.

Bentrokan itu meredam setelah adanya penebalan pengamanan dari aparat kepolisian bersenjata lengkap. Sehingga pria berkulit gelap ini selamat. Pengalaman itu masih diingatnya. Sebab, saat bentrokan satu busur panah sempat menempel di bagian bajunya.

''Ketika bentrokan pecah, saya berada di tengah-tengah massa. Mau lari sudah tidak bisa lagi. Saat itu hanya pasrah. Tapi, tetap mengammbil gambar. Satu busur panah merobek baju, untungnya tidak sampai luka. Busur panah itu saya bawa ke kantor,'' kata pria yang tinggal di perumahan Gria Azhara Lestari, Blok A Nomor 9 Kelurahan Pematang Gubernur, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, saat ditemui Okezone, Jumat 7 Februari 2020, malam.

Tanpa Kenakan Baju, Ambil Gambar Kepanikan Warga Bengkulu

Hery merupakan satu dari 18 kontributor dan koresponden, media nasional di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''. Pengalaman dia tidak hanya sebatas nyaris kehilangan nyawa, ketika liputan bentrokan di Jakarta Selatan.

Ayah dari M Rais Supandi, pernah merasakan liputan bencana gempa berkekuatan dahsyat di Bengkulu. Pada Rabu 12 Septembe 2007, persisnya. Gempa dengan kekuatan Magnitudo 8,4.

Saat guncangan gempa, Hery telah menjadi koresponden SCTV untuk Bengkulu. Ketika gempa terjadi dia bersama istri dan anaknya sedang bersilaturahmi di rumah orangtuanya, di Kelurahan Kebun Beler, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu.

Gempa menjelang azan Magrib itu membuat panik masyarakat Bengkulu. Mereka berlarian menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Termasuk Hery Supandi bersama keluarganya.

Ilustrasi

Tanpa pikir panjang, Hery berlari menuju ke simpang lima Ratu Samban, Kelurahan Penurunan, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu. Hanya mengenakan celana pendek, tanpa baju yang menempel di badan.

Naluri seorang jurnalis pada diri Hery, membuat dia tetap mengambil gambar. Kepanikan masyarakat Bengkulu yang berlarian menyelamatkan diri. Pengalaman itu masih membekas pada diri Hery. Di tengah-tengah bencana musti memberikan laporan ke kantor.

''Gempa 2007, saya berlari ke simpang lima. Saat berlari terpikir untuk mengambil gambar,'' cerita pria kelahiran Bengkulu, 8 Mei 1977 ini.

Liputan Kasus Pembalakan Liar, Hery Diancam Dibunuh

Menjadi jurnalis tidak selamanya menyenangkan. Profesi ini juga banyak tantangan, yang bertaruh nyawa. Hery pernah diancaman ingin dibunuh. Sebab pria bertubuh gumpal ini memberitakan kasus pembalakan liar di Kabupaten Seluma, Bengkulu.

Kasus tersebut melibatkan pejabat di daerah itu. Hery meliput kasus ini ketika menjadi koresponden SCTV. Sekira 120 meter kubik kayu hasil pembalakan liar, ditemukan polisi, 50 meter kubik diantaranya ditemukan di rumah pribadi pejabat Kabupaten Seluma.

Kasus yang melibatkan pejabat tersebut membuat nyawa Hery, terancam. Di mana pada tahun 2008 itu, dia diancam akan dibunuh. Lantaran telah memberitakan kasus tersebut. Namun, ancaman itu tidak membuat Hery, takut.

Ilustrasi

Suami dari Ine Lestari ini tetap memberitakan kasus itu. Hery berpikir menjadi jurnalis itu penuh risiko. Ancaman dibunuh, misalnya. Sebab profesi ini telah dipilih Hery, sejak terjun ke dunia jurnalistik pada tahun 2000.

Di mana sebelum menjadi koresponden SCTV, pria 43 tahun meniti kariernya di media lokal. Tabloit Bengkulu Baru, di tahun 2000. Profesi ini Hery pilih karena mengasikkan.

''Pernah juga diancam ingin dibunuh. Tapi, itu sudah menjadi bagian dalam dunia jurnalistik. Harus dihadapi,'' kata Hery.

Terjebak Longsor Bercampur Lumpur Panas

Diancam dibunuh. Anak panah menempel di baju. Berada di tengah-tengah kepanikan masyarakat ketika bencana gempa, sudah menjadi bagian hidup pria 43 tahun ini. Hery juga pernah merasakan liputan bencana tanah longsor bercampur lumpur panas.

Hery bersama rekan-rekan kontributor Tv nasional, terjebak longsor di kawasan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal PT. Pertamina Geothermal Energi (PGE), Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

Kejadian yang terjadi pada Senin 2 Mei 2016, nyaris meregut nyawa Hery dan rekan-rekannya. Di mana material longsor datang secara tiba-tiba. Hery tetap memutuskan mengambil gambar.

Material longsor, seperti bebatuan, kayu berukuran besar, serta lumpur panas, melintas di hadapan mereka. Kejadian itu tidak membuat mereka untuk menyelamatkan diri ke tempat yang aman.

Beruntung, saat kejadian Hery dan rekan-rekannya berhasil selamat. Hal tersebut setelah adanya instruksi dari Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Kav. Hendra Setiawan Nuryahya, agar mereka mundur dari lokasi tanah longsor.

''Kami waktu itu tidak bisa lari, karena material longsor bercampur lumpur panas sudah di depan mata. Maka menunggu sesaat, sembari mengambil gambar,'' cerita kontributor Trans7, ini.

Bertaruh Nyawa, Honor Dibayar per Berita Tayang

Ilustrasi

Hery telah merasakan beragam pengalaman menjadi jurnalis. Namun, honor yang diterima Hery sebagai kontributor TV, tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab kontributor hanya dibayar per berita yang tayang.

Sementara dalam menjalani profesinya Hery musti bertaruh dengan nyawa. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, pria 43 tahun ini juga membuka usaha kopi di Bencoolen Mall. Usaha sampingan itu tidak lain honor dari kontributor setiap bulan tidak cukup.

Usaha kopi rosbusta itu sudah dilakoni suami Ine Lestari, sejak tahun 2016. Dengan adanya usaha sampingan itu dia mampu menutupi kekurangan setiap bulan. Menjadi kontributor di daerah sama sekali tidak memiliki jenjang karier yang jelas.

''Honor yang diterima setiap bulan, sama sekali tidak cukup. Musti ada pekerjaan sampingan,'' kata Hery.

Honor yang dibayar perusahaan ketika berita tayang. Jika 'jualan' atau berita tidak laku ''dijual'', maka kontributor tidak mendapatkan honor. Namun, ketika berita lagi rami atau hot di daerah, honor kontributor TV bisa mencapai Rp9 jutaan.

Rejeki menjadi kontributor sama seperti rejeki harimau. Ketika sedang banyak maka honor yang diterima cukup memuaskan. Sedihnya, ketika ''jualan'' yang ditawarkan tidak laku ''dijual''. Kondisi itu terkadang membuat kecewa.

Lebih menyedihkan, ketika berita yang tayang tidak masuk dalam rekap. Belum lagi dalam satu bulan berita tidak ada yang tayang. Sehingga penghasilan dari kontributor tidak ada. Sementara pemenuhan kebutuhan hidup musti dikeluarkan setiap bulan.

''Kontributor itu sama seperti pedagang, yang menawarkan jualan gambar. Tidak selamanya jualan itu laku,'' jelas suami dari Ine Lestari ini.

Jurnalis Tv untuk di daerah belum sepenuhnya mendapatkan perhatian. Sebab, gaji bulanan, jaminan kesehatan untuk keluarga tidak ada. Kondisi itu sangat dirasakan kontributor di daerah.

Meskipun tidak ada jaminan, Hery tetap memilih profesi ini. Pria bertubuh gempal ini telah jatuh cinta dengan dunia jurnalistik. Profesi ini telah membuat Hery banyak pengalaman, berwawasan, hingga berkenalan dengan pejabat di daerah hingga pusat.

''Menjadi jurnalis karena naluri. Walapun bertaruh nyawa, tidak mengenal waktu, profesi jurnalis sangat seru,'' sampai pria berkulit gelap ini.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini