Catatan Jurnalis di Hari Pers Nasional, Pernah Dikalungi Celurit hingga Disantet

Bramantyo, Okezone · Sabtu 08 Februari 2020 12:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 08 337 2165349 catatan-jurnalis-di-hari-pers-nasional-pernah-dikalungi-celurit-hingga-disantet-fmLPM7s6K6.jpg Bramantyo, sudah 21 tahun ia lalui pekerjaan sebagai jurbalis (Foto: Okezone/Dok. Pribadi)

SOLO - Hari Pers Nasional dirayakan setiap 9 Februari. Menjadi seorang jurnalis bukanlah perkara mudah, suka duka di lapangan melahirkan beragam cerita yang patut diapresiasi.

Berikut ini adalah cerita dari Bramantyo, jurnalis senior yang sudah makan "asam garam" sebagai kuli tinta. Beragam cerita pernah dirasakannya, mulai dari dikalungi celurit hingga disantet.

****

Menjadi seorang jurnalis sebelumnya tak terlintas di benakku sama sekali. Tak terpikir sama sekali kalau akhirnya aku pun melakoni profesi ini. Tak terasa, sudah 21 tahun lamannya, sejak 1999 hingga kini aku melakoni dunia jurnalistik.

Awal mula aku terjun kedunia jurnalistik berawal dari pers kampus. Ya, saat itu aku pun ikut membidangi lahirnya pers di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Meski saat itu, aku ikut membidangi lahirnya pers di lingkungan Fakultas Psikologi, tapi aku sendiri pun belum begitu tertarik di dunia tersebut. Yang ada di benakku, kerja di perkantoran sebagai seorang personalia, seperti bidang disiplin ilmu yang aku tekuni.

Namun, takdir berbicara lain. Lamaranku di sebuah majalah itupun di terima. Tak ada bekal jurnalistik sama sekali, aku mulai menekuni profesi ini.

Awalnya, aku pun bingung gimana caranya membuat berita. Masih ingat dibenakku, liputan pertama aku adalah meiput muscab Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) di gedung DPRD Karanganyar.

Bramantyo

Meski meliput, tapi aku masih bingung bagaimana cara menulis berita hingga menjadi sebuah tulisan yang memberikan pencerahan kepada khalayak. Karena tak ada bekal jurnalis sama sekali, aku pun membeli semua koran yang terbit keesokan harinya.

Aku mempelajari satu persatu tulisan yang ada di koran tersebut. Terutama tentang berita yang kebetulan aku pun meliputnya.

Setelah membaca semua isi berita, aku pun memulai menulis berita tersebut. Berlembar-lembar kertas habis aku gunakan hanya untuk mengetik satu berita.

Maklum, saat itu, belum ada yang namannya komputer apalagi gadget seperti saat ini. Setelah berusaha keras, akhirnya satu berita tentang muscab KNPI itupun selesai aku buat.

Setelah selesai, berita itupun aku setorkan ke redaktur. Setelah diteliti, ternyata masih saja ada beritaku yang ngawur dan kacau balau.

Akhirnya aku diminta untuk mengulang kembali menulis berita. Dengan bimbingan dari redaktur kala itu, akhirnya naskah beritaku selesai sudah.

Ilustrasi

Namun sayangnya, media itupun gulung tikar. Hingga akhirnya aku pun berlabuh ke sebuah media harian lokal di Solo.

Proses perpindahanku dari majalah ke koran ini pun tak semudah membalikan tangan. Apalagi, koran yang terbit tiap hari berbeda dengan majalah.

Dengan modal jurnalis yang belum begitu banyak, sambil mengucapkan "Bismillah" aku mulai menekuni dunia jurnalis yang sesungguhnya.

Saat awal bergabung di harian umum di kota Solo ini, aku ditempatkan di wilayah Boyolali. Wilayah yang jauh dari tempat tinggalku sendiri, yakni Karanganyar. Setiap hari, aku berangkat ke Boyolali, dengan menggunakan motor dua tak, dari Karanganyar menuju wilayah kerjaku di Boyolali.

Sebagai pemula, wilayah kerjaku di Boyolali, berada di Kejaksaan dan Pengadilan. Seperti seorang jaksa, akupun tiap hari selalu "ngantor" di Kejaksaan.

Di Kejaksaan, aku harus berpikir bagaimana caranya bisa memenuhi target kuota berita satu bulan sebanyak 90 berita.

Ada kepuasan tersendiri kala itu. Meski hanya berada di dua pos saja, yaitu Kejaksaan dan Pengadilan, beritaku bisa bikin heboh.

Kala itu aku meliput upaya penyelundupan emas di Bandara Adi Soemarmo yang berhasil digagalkan dan tengah diproses di Kejaksaan. Sejak itulah, dunia jurnalistik pun mulai akrab denganku.

Hingga akhirnya media inipun kembali tutup dan akupun selalu berpindah-pindah media, sebelum akhirnya aku pun mencoba dunia baru, yaitu dunia pertelevisian.

Berbeda dengan dunia cetak, di televisi ini, aku dituntut untuk selalu meliput di lokasi kejadian. Termasuk meliput penambangan pasir di daerah Matesih, Karanganyar.

Di lokasi ini, aku sempat memiliki kejadian yang bisa dikatakan tindak kekerasan terhadap pers. Di mana, kala itu, aku meliput kegiatan penambangan pasir di daerah Matesih.

Awalnya, berjalan biasa, tak ada kejadian apapun. Berita awal bisa terpublikasi dengan baik. Dan berita itupun mendapatkan respon dari pemerintah setempat yang langsung menutup lokasi tersebut.

Setelah dinyatakan ditutup, aku pun penasaran dengan kondisi daerah yang digali itu. Wilayah bekas tambang pasir itu daerah perbukitan. Aku pun memastikan apakah benar tambang itu sudah ditutup.

Ilustrasi

Saat kembali ke daerah di mana penambangan itu dilakukan, memang ada papan pengumuman yang melarang adanya aktivitas tambang di daerah tersebut.

Awalnya, berjalan biasa menuju ke lokasi. Namun, tiba-tiba tanpa aku perkirakan sama sekali, dari arah belakangku, muncul seorang pria yang mengalungkan celurit ke leher aku.

Sambil menggertak, pria tersebut, meminta aku untuk meninggalkan lokasi tersebut. Tapi, sebelum pergi, aku diminta untuk menghapus gambar yang aku liput.

Ternyata di daerah itu, meski sudah dinyatakan ditutup, aktivitas penambangan masih saja ada. Kejadian itu terjadi sekira tahun 2005.

Karena tak punya pilihan apapun, dengan leher masih di kalungi cerurit, akupun akhirnya menghapus gambar yang sudah aku ambil.

Sejak kejadian itu, aku tak pernah datang lagi ke situ. Dan aku pun memutuskan untuk tak melaporkan kejadian itu ke polisi. Karena banyak pertimbangan

Tak terhenti di situ, pengalaman lainnya pun pernah aku rasakan. Di mana, pernah aku nyaris kehilangan nyawa. Saat aku santet.

Tapi untuk menjaga privasi, tak perlu rasanya aku ungkapkan secara fulgar di sini.

Namun yang pasti, pengalaman aku disantet seseorang, pernah aku alami sejak berita dimana proyek yang pernah diresmikan mantan Presiden SBY kala itu sempat heboh. Untungnya, berkat bantuan seseorang, aku pun terbebas dari Santet tersebut.

Sebenarnya banyak kejadian yang mewarnai perjalananku di dunia jurnalistik. Termasuk, melihat langsung keluarnya wedus gembel saat erupsi Merapi, terjebak di area penangkapan gembong teroris Nurdin M Top. Hingga, motor liputan yang terendam air saat kali Pepe anak sungai Bengawan Solo meluap.

Semua ini aku ceritakan agar para jurnalis muda saat ini, untuk berani mengungkap semua fakta kejadian. Meskipun tak ada berita seharga nyawa, namun demi sebuah totalitas, terkadang kita pun dihadapkan dengan yang namanya kekerasan terhadap jurnalis.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini